Mengenai Kami

Sejarah Merah adalah sekelompok mahasiswa sejarah UI yang resah terhadap pahit getir dan remuk-redamnya negeri dan bangsa ini. Melalui pembangunan kesadaran sejarah yang kuat pada individunya, Sejarah Merah UI bermaksud membuat negeri ini menjadi suatu tempat yang layak untuk ditinggali oleh manusia. Bagaimana caranya? Membuat diri sendiri merasa nyaman dan kerasan hidup di negeri ini dengan berbagai macam acara seperti studi, diskusi, aksi, musik, nonton film, olahraga, dan naik gunung. Lihat tulisan-tulisan kami lainnya di sejarahmerahui.blogs.friendster.com. Silakan kirim saran dan kritik anda terhadap tulisan kami ke sejarahmerahui2@yahoo.co.id atau sejarahmerahui@gmail.com. Terima Kasih.

Kamis, 26 Maret 2009

Masjid Kebon Jeruk, Perjalanan, dan Rumah Tanpa Fondasi

Orang-orang dari mancanegara dengan gamis putih dipadu dengan rompi terlihat berlalu lalang sore itu. Sebagiannya lagi, dengan surban di kepala dan Al-Qur’an di tangan kanan, sibuk bicara dengan beberapa orang dari dalam negeri. Mereka bicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Tetapi, saya merasa familiar dengan logat dan bahasa mereka. Bahasa yang sering saya dengar di televisi dari film-filmya Shahrukh Khan. Lucu juga mendengar mereka bicara seperti itu. Begitulah suasana Kamis sore pada Masjid Kebon Jeruk di pertengahan 2005 ketika terakhir kalinya saya kesana.

Sekarang, kata seorang teman, suasana seperti itu tetap tidak berubah. Hanya kondisi fisik masjid saja yang berubah. Sekarang masjid itu lebih besar. Lantai tiganya sudah jadi. Padahal, ketika saya terakhir kalinya kesana untuk khuruj seminggu ke Bogor, pertengahan 2005, lantai tiga masih dalam pembangunan. Masjid yang menjadi markas kelompok-- entah kenapa orang-orang menamainya dengan nama ini--Jamaah Tabligh memang selalu hidup. Tidak saja karena salat lima waktunya, tetapi juga karena aktivitas lain seperti bayan dan amal jama’i lainnya. Seperti sebuah jantung, masjid itu mempunyai fungsi yang vital. Disanalah musyawarah dilaksanakan, ilmu diajarkan, amalan diterapkan, keagungan Nabi Muhammad diceritakan, kisah-kisah Shahabat diperdengarkan, dan kebesaran Allah dibicarakan.

Kini, empat tahun sudah saya tidak kesana. Ada hasrat untuk kembali kesana. Merasakan kembali kebersamaan makan, kearifan Maulana dari India, kedalaman pengetahuan orang-orang arif dan alim. Sudah terlalu jauh saya pergi, tetapi atapnya tak pernah hilang. Ia selalu menarik saya untuk kembali. Semakin jauh saya pergi, semakin besar keinginan untuk kembali. Sayangnya, begitu banyak jalan yang telah saya lalui. Saya pun lupa jalan pulang dan tersesat. Di jalan banyak petunjuk. Setiap petunjuk itu saya baca dengan seksama. Tak semua petunjuk mengarahkan ke jalan pulang. Ada yang mengarahkan saya ke suatu tempat dimana saya temukan orang-orang dengan logika luar biasa pintar, semangat besar, namun minus spiritualitas.

Ada pula yang mengarahkan saya ke sebuah tempat dimana berkumpul orang-orang dari berbagai macam rupa. Mereka bertempat di sebuah rumah tanpa fondasi. Bangunan rumah melayang. Memang luar biasa para pembangunnya. Saya pun masuk. Di dalamnya, permainan bebas tanda saya lakukan. Ekstasi yang dicari bukanlah makna, melainkan permainan tanda itu sendiri. Bukan Kebenaran, melainkan kebenaran-kebenaran. Semua perkataan diragukan. Tidak peduli apakah seseorang itu bergelar profesor, mahasiswa, atau rakyat jelata, semua pernyataan yang dikeluarkan diragukan. Tampaknya memang sangat menghargai setiap suara, tapi sebenarnya justu menimbulkan kekacauan dan kehancuran makna. Maximum tanda, minimum makna.

Rumah yang tanpa fondasi itu memang menggairahkan sekaligus menakutkan. Disana kesemuan bercampur dengan keabadian. Pahlawan tak bisa dibedakan dengan bajingan. Tuhan dan Setan sama-sama meniupkan kata-kata “arif”. Spiritualitas tak dinafikan, namun materialitas didengungkan habis-habisan. Di dalamnya tidak ada yang mapan. Semuanya harus menjadi lapuk, usang, dan kering. Kemudian diganti dengan yang baru. Yang baru itu nantinya menjadi yang lapuk, usang, dan kering dan kemudian diganti lagi dengan yang baru dari yang baru. Begitulah seterusnya. Nalar manusia dianggap tidak mampu mencapai sebuah konsensus. Tetapi, itulah yang dirayakan dari orang-orang di dalam rumah tersebut.

Untunglah atap dari masjid yang saya tinggalkan pergi itu tetap menjulang ke atas. Saya pun teringat dengan tujuan awal saya. Kembali ke sana. Tidak lain, tidak bukan. Saya pun keluar dari rumah itu dan berpamitan dengan orang-orang yang ada didalamnya, salah satunya seorang dari Jerman dengan kumis tebal. Dialah mahaguru orang-orang di rumah itu. Kembali saya menjadi pengembara. Petir dan halilintar menyambar seperti teror dan horor. Saya mencari tempat berteduh, tetapi semuanya rapuh dan reot. Di tengah jalan, saya bertanya “kenapa saya pergi? Padahal, ada sebuah tempat untuk berlindung, sebuah tempat untuk merenung, sebuah tempat untuk bernaung”.

Rupanya, kilau cahaya dan keindahan bentuk dari rumah-rumah yang mengelilingi masjid itulah yang membuat saya berhasrat ingin mendatangi dan kemudian memasukinya. Dari jauh, setiap rumah itu dibangun dengan cara yang modern. Dengan rumusan ilmu teknik, arsitektur, geometri, dan matematika lanjut, tak heran rumah-rumah itu terlihat megah dan mewah dari luar meskipun ada yang dibangun tanpa fondasi dan rumusan-rumusan itu. Entah bagaimana rumah itu dapat berdiri. Setelah saya datangi dan masuki satu persatu, rumah-rumah itu tidaklah lebih baik dari sebuah masjid yang pernah saya singgahi. Penghuninya banyak, namun kebingungannya luar biasa dalam. Ada juga rumah yang hanya untuk sebagian kalangan.

“Kemana jalan pulang?”, tanya saya di tengah jalan. Ternyata tidak semua petunjuk itu membawa ke arah yang benar. Petunjuk itu harus dibaca dengan seksama. Bahkan, ada banyak petunjuk yang tersembunyi yang tidak ditemukan dengan pencerapan panca indra. Dalam perjalanan pun, banyak orang-orang yang mencari jalan pulang yang jika saya bertanya kepada mereka, mereka jawab dengan jujur dan kadang bohong.

Pada sebuah waktu, saya bertemu dengan bintang. Dia tidak berkata apa-apa. Karena saya terpesona cahayanya, saya ikuti bintang itu. Dari mengikuti bintang itu, saya banyak temukan petunjuk untuk kemudian saya baca dengan seksama. Saya seolah lupa bahwa saya seharusnya tak mengikuti bintang itu sebab bukanlah dia tujuan utama. Namun, tiba-tiba tanpa saya sadari, saya sudah berada kembali di depan masjid yang pernah saya tinggalkan. Di depan masjid, saya baru tersadar, bahwa yang saya cari sebenarnya adalah masjid itu, bukan sang bintang. Pun begitu, ia telah membantu saya meski tanpa berkata apa-apa. Dan kini, saya pulang dengan banyak membawa keranjang, baik yang berisi batu maupun buah.

Jum’at, 27 Maret 2009, Srengseng Sawah.

Minggu, 08 Maret 2009

Berpikir Tentang Perempuan

Tulisan ini saya buat setahun lalu di blog friendster saya (http://jangan-bungkamhendaru.blog.friendster.com/2008/03/). Kini, saya coba merenunginya kembali bertepatan dengan hari perempuan sedunia kemarin yang berdekatan dengan kelahiran Nabi Muhammad saw

Stasiun Televisi Australia Network, pada hari Perempuan Internasional minggu lalu, menayangkan film dokumenter perjuangan perempuan-perempuan Ethiopia yang menderita penyakit Fistula, ketidakmampuan mengendalikan buang air. Sungguh hebat perjuangan mereka sehingga membuat saya terinspirasi. Ketika tulisan ini dibuat, hari Perempuan Internasional sudah lewat, namun itu bukan berarti kajian tentang perempuan berhenti. Saya mencoba berpikir tentang perempuan dari sudut pandang laki-laki melalui tulisan ini.

Siapa sebenarnya perempuan? Bagaimana kedudukan perempuan di mata laki-laki? Dan apa yang bisa dan sudah dilakukan perempuan bagi dunia? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul ketika saya menyaksikan acara Australia Network diatas. Film yang berdurasi satu jam itu diberi judul yang indah “A Walk To Beautiful”.

Bagi mereka yang menonton film tersebut pasti akan terkagum-kagum melihat perjuangan mereka. Bayangkan, mereka yang semuanya adalah perempuan dari kalangan miskin rela berjalan berkilo-kilo meter dari kampung mereka masing-masing untuk berobat ke Adis Ababa, ibukota Ethiopia. Kemauan keras mereka untuk kembali berkumpul bersama keluarga dan mengabdi kepada masyarakat, mengalahkan rasa capek mereka. Pada akhir film, saya bertanya makhluk seperti apa perempuan itu sebenarnya? Mengapa saya seolah tidak mengenal mereka? Padahal, mereka ada di sekitar saya setiap hari, bahkan sangat dekat, seperti sosok ibu.

Secara biologis, perempuan adalah makhluk yang mampu melahirkan karena mempunyai rahim. Ia yang melahirkan semua manusia di muka bumi ini. Suatu kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Ia juga yang melindungi semua manusia di muka bumi ini pada awalnya. Dengan rahimnya, ia lindungi cikal bakal manusia, yaitu janin. Kemudian, janin berkembang menjadi bayi. Di dalam perut seorang perempuan, bayi terlindung secara sempurna selama sembilan bulan melalui tiga lapisan.

Secara psikologis, perempuan adalah makhluk yang lebih mengedepankan emosi daripada rasio. Oleh karena itu, banyak yang mengatakan perempuan lebih emosional daripada lelaki. Maksud emosional disini meliputi segala macam emosi baik itu cinta, kasih sayang, sedih, marah, dan sebagainya. Singkatnya, perempuan lebih suka berasa dan tak mampu mengontrol emosinya daripada laki-laki.

Secara fisiologis, perempuan adalah makhluk yang memiliki payudara dan vagina. Dua organ itu merupakan organ khusus yang hanya dimiliki perempuan. Kedua organ inilah yang nantinya membuat banyak laki-laki tergila-gila pada mereka. Bahkan kemudian karena kedua organ itulah perempuan banyak yang dieksploitasi dalam bentuk perdagangan manusia, pornografi, pelacuran, dan industri fashion.

Selain dari tiga sudut diatas, masih banyak sudut yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan perempuan, seperti menurut mitos, agama, kamus, sosial, dan jender. Dari semua sudut itu dapat disimpulkan bahwa perempuan adalah makhluk yang unik dan berbeda dengan laki-laki. Satu persamaan hakiki adalah perempuan berasal dari nenek moyang yang sama dengan laki-laki, yaitu homo sapiens.

Pandangan yang menyatakan perempuan sama dengan laki-laki menurut saya adalah pandangan yang keliru. Pandangan seperti itu justru meniadakan partikularitas alamiah antara perempuan dan laki-laki. Laki-laki dan perempuan adalah individu yang memiliki keunikan dan otonomi masing-masing dan oleh karena itu, mereka saling melengkapi. Dalam bahasa Erich Fromm perempuan dan laki-laki itu menerima dan mempenetrasi.

Karena perbedaan-perbedaan itulah saya sepakat adanya perbedaan perlakuan kepada perempuan. Meskipun begitu, perbedaan perlakuan tersebut bukanlah berarti diskriminasi dalam pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, politik, karier, dan pemerintahan. Perbedaan perlakuan ditujukan dalam masalah perang, cuti, transportasi, militer, pakaian, kriminal, dan urusan seksual.

BUKAN MAKHLUK KELAS DUA
Perempuan tidaklah berasal dari tulang rusuk Adam. Perempuan juga tidak berasal dari belahan hati laki-laki yang hilang. Semua pandangan itu merupakan pandangan bersifat patriarkalisme dengan berpusat kepada superioritas maskulin dan menganggap perempuan sebagai makhluk kelas dua.

Saya heran mengapa harus ada gerakan emansipasi perempuan. Lebih jauh lagi, muncul gerakan feminisme dengan berbagai variannya. Saya juga heran dengan munculnya teknologi kloning. Bagi saya hal-hal demikian adalah penghinaan berat untuk perempuan. Bagi orang yang paham terhadap kedudukan perempuan, saya yakin mereka juga akan berpendapat sama dengan saya. Sebab, perempuan itu kedudukannya lebih tinggi daripada laki-laki dan tidak akan pernah laki-laki menyamainya. Adanya kehamilan dan perkataan Muhammad bahwa surga berada di telapak kaki ibu adalah penghargaan yang sangat tinggi bagi perempuan.

Laki-laki yang menganggap perempuan sebagai mahkluk kelas dua seharusnya malu dan perlu menyadari hal itu. Saya tidak pernah bisa membayangkan jika saya dilahirkan sebagai seorang perempuan. Mengandung, menjalani siklus menstruasi, dan menyusui merupakan pekerjaan yang berat. Bila saya dilahirkan kembali sebagai perempuan, saya yakin saya tidak bisa melakukan hal itu. Sudah selayaknya jika perempuan kita tempatkan di tempat yang paling tinggi. Oleh karena itu, penindasan, diskriminasi jender, dan bentuk eksploitasi lain terhadap perempuan amatlah tidak pantas dilakukan.

Ketidakpedulian kita terhadap perempuan yang ditindas dan diperdagangkan, baik oleh laki-laki maupun perempuan, merupakan salah satu kejahatan terbesar dalam peradaban abad ini. Mengabaikan hal itu sama saja mengabaikan para ibu yang telah membuat kemanusiaan tetap eksis hingga hari ini. Mengabaikan hal itu sama saja mengabaikan perjuangan perempuan di seluruh dunia membangun peradaban dunia yang lebih baik bersama laki-laki.

Melihat perempuan-perempuan Ethiopia, mbok-mbok jamu, mbok-mbok penjual makanan dari Bantul, dan para ibu-ibu kita, justru membuat saya semakin kecil di hadapan mereka. Apa yang bisa saya lakukan untuk mereka? Apa yang saya bisa berikan kepada mereka yang telah memberi saya kehidupan? Perempuan dan ibu seperti air, tanah, udara, bahkan bumi yang memberi manusia kehidupan. Mereka sangat kuat, perkasa, dan baik. Mereka melakukan apa yang laki-laki tak bisa lakukan. Maka kemudian sangat sedih mendengar komentar bahwa kemerosotan dunia disebabkan oleh perempuan. Betapa kejamnya orang yang mengatakan hal itu.

Jika kita melihat secara jernih, kebanyakan para koruptor, perusuh, dan pembunuh itu adalah laki-laki, bukan perempuan. Padahal katanya, perempuan itu adalah makhluk emosional, tetapi kenyataan di lapangan membuktikan lain. Sungguh absurd, dan pada bagian inilah saya merasakan kebingungan yang luar biasa. Perempuan yang katanya lemah secara fisik, justru tidak terbukti jika melihat mbok-mbok Bantul dan perempuan Ethiopia itu. Rupanya, saya hanya memahami sedikit sekali tentang mereka. Untungnya, pendapat absurd itu justru falsifikasi dari pendapat yang mengatakan perempuan sebagai biang kerok kemerosotan dunia.

Setidaknya, saya mencoba mengenal mereka lebih dalam walau akhirnya yang saya dapat hanyalah pecahan-pecahan kecil dari puzzle yang amat rumit. Meskipun begitu, saya tahu bahwa perempuan, seperti di Ethiopia dan Bantul, telah melakukan banyak hal bagi manusia dan dunia. Amatlah naïf menyepelekan peran mereka. Oleh karena itu, sejarah harus lebih adil melihat perempuan. Sejarah sekarang didominasi oleh maskulinitas hingga sebutan untuk sejarah pun sangat maskulin, yaitu history (ceritanya, laki-laki) bukan herstory (ceritanya, perempuan). Aktor-aktor sejarah pun terpusat kepada laki-laki. Seolah tidak ada perempuan yang membuat sejarah.

Pada akhir tulisan ini, jika dilihat secara keseluruhan perempuan adalah makhluk yang luar biasa. Ia mampu menciptakan perbedaan pada dunia. Ia menciptakan cinta yang tak ada bandingannya, cinta ibu terhadap anak. Betapa hebatnya ada orang yang rela berpisah dengan orang yang dikasihinya. Lihatlah bagaimana cinta ibu dan anak itu sebenarnya adalah memisahkan dua orang yang pada awalnya menyatu seperti kata Erich Fromm. Walaupun demikian, ada juga hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh perempuan dan karena itulah laki-laki ada. Maka masih perlukah feminisme? Masih perlukah maskulinisme? Tidak! Karena pada dasarnya dan akhirnya, laki-laki dan perempuan saling melengkapi, tidak ada yang lebih superior, mereka komplementer.

Ditulis sebagai penghargaan untuk perempuan dan ibu di seluruh dunia, Srengseng Sawah, Sabtu 15 Maret 08, pukul 20.55 WIB

Senin, 23 Februari 2009

JAKARTA YANG TERUS MENERUS BERUBAH 1950—1980

Judul Buku : Hikayat Jakarta

Penulis : Willard A. Hanna

Penerbit / Kota / Tahun: Obor / Jakarta / 1988

Tebal Buku : xv+267 halaman

Willard A. Hanna, penulis buku ini, merupakan sarjana Amerika yang pernah bekerja di Indonesia sebagai direktur Kantor Penerangan Amerika Serikat. Ia membaktikan dirinya di bidang pendidikan universitas di Amerika. Ia memilih Asia Tenggara, terutama Indonesia, sebagai fokus perhatian dan penelitiannya. Untuk menulis buku ini, Hanna menggunakan sumber-sumber pertama dan kedua dari berbagai penulis dan peneliti Belanda. Ia mencoba menjelaskan proses perubahan Jakarta yang berlangsung lama. Perubahan dari sebuah pelabuhan lada yang kecil dan tak dikenal hingga menjadi sebuah Daerah Khusus Istimewa Jakarta yang berpenduduk 7—8 juta jiwa dengan penduduknya yang hidup berdesak-desakkan, baik kaya maupun miskin, di beberapa wilayah yang agak kering di dalam wilayah seluas 590,11 kilometer persegi. Buku ini dimulai dengan deskripsi Sunda Kelapa dan diakhiri dengan renungan Jakarta tempo dulu melaui gambaran tempat-tempat bersejarah di Jakarta.

Dari buku ini, saya mengambil sebuah bab yang menjelaskan dan menggambarkan sebuah kota yang sedang mengalami perubahan. Perubahan merupakan sebuah hal yang pasti dalam setiap segi kehidupan, begitupun pada kota dan kehidupan di dalamnya. Setiap perubahan itu mempunyai karakteristik dan tahap-tahap sendiri;apakah itu cepat, lambat, dan sedang. Perubahan itu menjadi penanda sebuah kota dalam memasuki sebuah era. Oleh karena itu, kajian tematis mengenai perubahan yang terjadi di kota, terutama Jakarta, menjadi sangat penting. Hanna mencoba memahami perubahan Jakarta pada 1950—1980 dengan mengaitkannya kepada orang-orang penting dan garis-garis besar pembangunan yang bersifat nasional maupun perkotaan.

Setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintahan Jakarta berada di bawah pemerintahan Republik Indonesia. Agresi Militer Belanda sempat membuat Jakarta kembali jatuh ke pemerintahan Belanda. Namun, pada 1950 pemerintahan Jakarta kembali dipegang oleh pemerintahan Indonesia. Pada masa ini, Indonesia sangat padat penduduknya. Pun begitu dengan Jakarta. Akan tetapi, Indonesia dan Jakarta sendiri justru kurang berkembang, terutama sekali pada kota yang menjadi pusat pemerintahan Indonesia itu. Jakarta tidak dapat melayani penduduknya yang berjumlah 1 juta orang sehingga membuat keadaanya sangat buruk. Pada masa perang, kota itu hanya didiami setengah juta jiwa. Berakhirnya perang kemerdekaan membawa harapan peningkatan taraf hidup yang lebih tinggi bagi rakyat Indonesia yang berada di Jakarta. Akan tetapi, dengan fasilitas-fasilitas yang telah rusak akibat perang tidak mampu melayani 1 juta orang.

Kepemimpinan di tingkat kota dan bangsa belum menunjukkan adanya kerja yang konstruktif. Situasi ini terjadi karena bangsa dari sebuah negara baru bernama Indonesia ini, belum memiliki tingkat pendidikan dan naluri elit otokratis. Hanya sebagian saja yang memiliki itu. Ini membawa kerja tidak ditujukan untuk sesuatu yang konstruktif, melainkan lebih kepada suatu hiburan yang mahal. Para elite nasional lebih senang menujukkan kehebatannya dalam hal jatuh-menjatuhkan kabinet. Para elite kota lebih tenang menghadapi masalah-masalah pelik setelah kemerdekaan karena meyakini adanya sumber-sumber dan angkatan kerja yang besar. Sementara warga kota menunggu mereka meningkatkan taraf hidupnya dengan kebijakan-kebijakan yang mereka buat. Jakarta sendiri antara tahun 1950—1966 selalu berada dalam keadaan bergerak dengan romantisme revolusinya.

Setelah Orde Lama jatuh, Jakarta dibangun dengan orientasi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi sejalan dengan keinginan Orde Baru terhadap Indonesia. Kota Jakarta pada masa Orde Baru telah dengan jelas menunjukkan sukses dan kegagalan yang telah dicapainya. Gedung-gedung bertingkat, hotel, jalan-jalan arteri, jembatan layang, dan perangkat perdagangan merupakan tanda kesuksesan Jakarta dari 10% orang-orang minoritas yang mendapatkan hak-hak istimewa. Sementara itu, gubuk-gubuk miskin, ketidaknalaran, kebodohan, dan kemiskinan merupakan kegagalan dari 90% orang-orang mayoritas. Namun demikian, pemerintah kota tetap memperhatikan hal ini dan terus menerus berusaha memperbaikinya. Ini penting mengingat Jakarta sudah menjadi simbol Indonesia.

Sebuah hal yang awalnya merupakan gagasan besar Bung Karno itu tetap diteruskan pada masa Orde Baru. Jakarta yang telah ditetapkan sebagai ibukota pada 1964 itu mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus atau tidak harus, menjadi kota yang mendukung pembangunan nasional. Stabilitas, pemerataan, dan pembangunan kota ini diharapkan menjadi indikator keberhasilan pemerintah pusat dalam menjalankan program pembangunannya. Dunia tidak akan melihat kerja pemerintah dari pembangunan jalan, resor, dan hotel di tempat-tempat eksotis Indonesia seperti Bali, Lombok, atau Bunaken. Dunia akan melihat kerja pemerintah dari ibukota negara tempat dimana yang merupakan arena pertemuan pusat ekonomi, pusat pemerintahan, pusat kebudayaan, dan pusat perebutan kekuasaan.

Jakarta menjadi kota metropolis dibawah Orde Baru. Ia menjadi kota dimana permintaan dan penawaran memainkan peran utama dalam merencanakan pembangunan dan perkembangannya. Hal ini karena paradigma ekonomi Orde Baru yang condong ke arah kapitalisme, meskipun kemudian coba diredam dengan sebutan lain, yaitu pasar sosialis. Jakarta berubah demi Indonesia. Ia merupakan citra dari Indonesia, miniatur Indonesia dimana didalamnya memang ada Taman Mini Indonesia Indah. Akan tetapi, Jakarta bukanlah kota yang cocok bagi mereka kaum pedesaan yang tidak mempunyai keahlian, keterampilan, dan kecakapan khusus. Mereka akan membawa beban bagi kota yang tidak mempunyai daya dukung kota secara layak ini. Kedatangan mereka akan membuat pemerintah pusat bermimpi buruk. Bayang-bayang kejahatan, kemiskinan, dan kemelaratan menjadi semakin nyata pada kota mereka. Kebijakan pun dibuat untuk meredam ancaman terhadap keinginan pemerintah. Pembangunan negara memang dimaksudkan untuk kehidupan bangsanya menuju ke taraf yang lebih baik. Akan tetapi, kemudian ada pertanyaan, sampai dimanakah pembangunan itu dapat dirasakan semua rakyat? Dimana posisi kaum marjinal di kota? Dan untuk siapakah pembangunan itu dilaksanakan? Jakarta menjadi ruang yang cocok untuk melihatnya. Sejarah Jakarta yang penuh dengan keringat dan darah akan menjadi alat penafsiran dan pemahaman itu.

Jumat, 20 Februari 2009

Kamis, 19 Februari 2009

Di bawah temaram lampu halte, saya naik-turunkan pandangan mata saya kepadanya. Di sana, telah terkubur masa lalu yang kelam. Di tengah rintik hujan, saya berikan buku-buku itu kepadanya. Di malam itu, Kamis, 19 Februari 2009, terpatri harapan yang dalam.

Kini, lancar sudah selokan yang mampat itu. Terima kasih kepadamu dan seorang sahabat yang menemanimu. Hilang sudah pikiran yang galau itu. Waktunya bagi saya memperbaiki diri, untukmu.

Sebuah perjalanan panjang dari satu cangkang ke cangkang lainnya telah berakhir. Sebuah cangkang yang memberi kebenaran sejati telah ditemukan. Hingga membuat cangkang-cangkang lama terkubur dan seakan berbau anyir. Inilah cangkang yang memberi keselamatan dari semua ancaman.

Inilah cangkang yang konsisten kau pakai dan kini ku pakai lagi.

Jika bersedia, berilah saya kesempatan, bukan kesempatan pelepasan semunya kesenangan. Saya akan memperbaiki dan menyabarkan diri sekaligus menundukkan pandangan. Sembari mencari penghidupan tetap dan selesaikan empat setengah tahun pendidikan. Setelah itu, kepada Allah dan kau-lah semuanya saya serahkan.

Terima kasih telah memberikan kenangan yang indah di malam itu pada sebuah halte di kampus yang penuh dengan lalu lalang kendaraan bermotor. Tolaklah saya pada Februari 2010 sebab saya akan datang untuk meminta. Tetapi, saya akan tetap menunggu sampai kau mencapai impianmu dan meminta untuk yang kedua kalinya. Hasbunalloh wa ni’mal wakiil...Sehat untukmu dan semua yang ada di rumah,wahai wajah bersih bahagia yang tidak akan saya lupakan. Dan kini semua kembali normal...

Selasa, 10 Februari 2009

KOTA SEBAGAI SEBUAH KONSEP PERADABAN

Kota merupakan ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi. Di dalam kota masyarakat membaur bersama. Masyarakat menjalankan aktivitas sehari-harinya di kota. Dari berbagai macam aktivitas masyarakat kota seperti bekerja dan bertempat tinggal, lahirlah sebuah peradaban. Peradaban itu muncul melalui rentang waktu yang panjang. Kota sendiri juga muncul melalui rentang waktu yang panjang. Pada awalnya, kota hanyalah sebuah daerah yang hanya didiami oleh beberapa orang saja. Daerah yang didiami oleh beberapa orang itu umumnya adalah daerah yang mampu menjamin keberlangsungan hidup mereka. Sejarah kemunculan kota di dunia diawali dengan kebutuhan manusia akan kehidupan yang tidak lagi nomaden.

Peralihan corak kehidupan manusia dari nomaden menjadi menetap sejalan dengan perkembangan pikiran manusia dan kondisi alam yang memengaruhinya. Semakin maju tingkat pemikiran manusia, semakin sadarlah manusia akan kebutuhan-kebutuhannya yang mengharuskan ia mengolahnya sendiri. Kebutuhan akan makanan, pakaian, dan rumah yang baik dan layak membuat manusia terus berpikir. Alam yang ganas harus ditaklukan. Maka muncullah konsep kehidupan menetap. Manusia tidak lagi mengumpulkan makanan dan hidup berpindah-pindah, melainkan menciptakan makanan dan hidup secara menetap. Dari cara hidup yang menetap inilah kemudian muncul kota-kota di dunia, termasuk di Indonesia seperti kota Jakarta.

Sejarah kemunculan kota berkaitan dengan keinginan manusia untuk hidup menetap. Dari cara pandang inilah, pemusatan penduduk kemudian terjadi pada suatu wilayah yang dianggap mampu menyediakan rasa aman dan nyaman. Karena daya tarik itulah, masyarakat kemudian banyak mendiami wilayah-wilayah tersebut. Tahun demi tahun berganti, penduduk pun mulai bertambah. Pertambahan jumlah penduduk ini tentu membawa banyak keuntungan dan kerugian. Suatu wilayah yang mampu mengikuti laju pertambahan penduduknya tidak akan menemukan banyak masalah dari pertambahan penduduk. Sementara bagi wilayah yang tidak mampu mengikuti laju pertambahan penduduknya, permasalahan akan muncul dari situasi seperti ini. Seiring dengan semakin bertambahnya penduduk di wilayah-wilayah yang subur, aman, dan nyaman, wilayah tersebut semakin mengalami degradasi. Kemunduran ini terjadi ketika wilayah-wilayah tersebut tidak mampu mengatasi permasalahannya karena pertambahan jumlah penduduk.

Sebagai ruang besar untuk berinteraksi, kota mempunyai seperangkat aturan yang mengatur masyarakatnya agar mampu menjalani kehidupannya sehari-hari. Tentu saja hal ini merupakan cara untuk mengondisikan kota sebagai ruang yang layak bagi manusia-manusia yang berada di dalamnya. Untuk mewujudkan itu, dibentuk sebuah kelompok masyarakat yang bertugas melaksanakan kehendak masyarakat kota. Kelompok ini disebut dengan pemerintah kota. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah kota pada dasarnya adalah kebijakan masyarakat kota itu sendiri. Apa yang menjadi keinginan masyarakat kota itulah yang kemudian diterjemahkan oleh pemerintah kota dengan kebijakan-kebijakan yang mereka buat.

Akan tetapi, karena banyaknya kepentingan yang ada di dalam masyarakat kota, kebijakan-kebijakan pemerintah kota kemudian banyak yang hanya menguntungkan segelintir kelompok. Untuk kasus Jakarta, kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir kelompok itu akan tampak nyata ketika kita melihat sejarah perkembangan kota Jakarta. Pemerintah Kota Jakarta yang setelah kemerdekaan diserahkan kepada Pemerintah RI, belum mampu menghasilkan implementasi kehendak dari semua masyarakatnya. Sejak kemerdekaan, kota Jakarta belum pernah melibatkan masyarakatnya dalam usaha membangun kota secara bersama-sama. Kota Jakarta dibangun hanya untuk kepentingan pasar. Perkembangan kota seutuhnya diserahkan kepada mekanisme permintaan dan penawaran. Akibatnya, Jakarta jatuh bangun dengan segala macam permasalahannya yang tak kunjung usai.

Esensi kota sebagai human settlement nyaris dilupakan para stakeholders kota. Mekanisme pasar yang menegasikan peran pemerintah menyumbang banyak permasalahan bagi kota ini. Kota ini berkembang dengan sendirinya mengikuti mekanisme pasar. Akibatnya, masyarakat kota tidak sempat menikmati apa yang disebut dengan berkota. Masyarakat kota hanya menikmati sebuah fase sejarah yang disebut dengan mengkota. Perubahan desa ke kota tidak diiringi dengan perubahan sikap mental masyarakatnya. Pembangunan kapasitas masyarakat kota dilupakan oleh pemerintah. Ini terlihat dari lemahnya kualitas sumber daya manusia Kota Jakarta. Pembangunan fisik kemudian coba dilakukan sebagai selubung untuk menutupi bopeng Jakarta. Pembangunan fisik dan ekonomi hanya menghasilkan kota yang menarik bagi masyarakat, tanpa menghasilkan masyarakat yang menarik bagi kota. Akibatnya, ketika kota berkembang sesuai dengan mekanisme pasar, masyarakat justru tidak berkembang.

Ketidakberkembangan masyarakat kota ini ditandai dengan tingginya angka pengangguran dan meluasnya hunian-hunian kumuh dan miskin. Meskipun begitu, Jakarta tetap menjadi magnet bagi penduduk desa. Menyadari hal ini pemerintah kota kemudian mencoba membuat Jakarta sebagai kota yang tertutup dan menakutkan bagi penduduk desa. Berita-berita tentang penggusuran dan wilayah-wilayah kumuh semakin gencar dipublikasikan oleh pemerintah. Ini untuk membuat kesan kerasnya kehidupan Jakarta. Di satu sisi, publikasi ini cukup baik sebagai pembelajaran. Akan tetapi, di sisi lain, tanpa adanya kebijakan alternatif, berita-berita ini akan menjadi propaganda pemerintah untuk membatasi hak bagi masyarakat untuk berkota.

Perkembangan kota yang ditentukan oleh manusia yang ada di dalamnya . Kota terbentuk, berkembang, runtuh, terbentuk lagi, berkembang, dan seterusnya; semua ini ditentukan oleh manusia. Oleh karena itu, mutlaklah diperlukan upaya untuk mengkaji perkembangan kota dengan melihat dinamika masyarakat kota itu sendiri. Perkembangan kota itu sendiri tidak lain merupakan hasil interaksi dari masyarakat yang ada di dalamnya. Interaksi itu kemudian melahirkan peradaban sebuah kota. Maju mundurnya sebuah peradaban kota ditentukan oleh masyarakatnya sendiri seerti perubahan nasib yang berada di tangan manusia sebagaimana apa yang tertulis dalam Al-Qur'an bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum tanpa ada usaha dari kaum tersebut. Maka, maha benar Allah dengan segala firman-Nya

CERITA DARI SEBUAH KAMPUNG : STUDI TENTANG SEBUAH PERKAMPUNGAN KUMUH DI JAKARTA

Permukiman-permukiman kumuh di Jakarta dapat dilihat secara jelas melalui citra satelit. Dari foto satelit ini akan tampak jelas perbedaan antara permukiman kumuh dengan permukiman yang tertata dengan baik. Permukiman-permukiman kumuh juga dapat dibaca dari catatan dan laporan rutin bulanan di kantor kelurahan dan kecamantan Pemda DKI Jakarta. Akan tetapi, foto satetit dan laporan-laporan itu tidak akan dapat menjelaskan dinamika permukiman-permukiman kumuh. Foto satelit dan laporan-laporan itu hanya menggambarkan permukiman-permukiman kumuh tanpa dapat menjelaskan bagaimana kehidupan di dalam permukiman-permukiman kumuh. Dengan kata lain, foto satelit dan laporan-laporan itu hanya menyentuh permukaan luar dari permukiman-permukiman kumuh di Jakarta. Sebuah penelitian yang mendasarkan pada pengamatan langsung pada permukiman kumuh di Jakarta seperti yang dilakukan Lea Jellinek pada 1970-an di Kebon Kacang, Jakarta Pusat, memberikan sebuah penjelasan terhadap dinamika kehidupan sebuah permukiman kumuh di DKI Jakarta.

Penelitiannya selama lebih kurang 20 tahun itu kemudian ia bukukan. Dalam bukunya, Lea menjelaskan dinamika kehidupan dalam sebuah permukiman kumuh di Jakarta yang terletak di Kampung Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Lea pertama kali masuk ke kampung itu pada awal 1970-an ketika ia bekerja sebagai sukarelawan Australia di Universitas Indonesia. Ia kemudian berkenalan dengan seorang warga setempat bernama Sumira. Sumira adalah seorang perempuan pedagang makanan langganan Lea. Pada awalnya, studi Lea hanya berfokus pada kehidupan Sumira, namun kemudian meluas mencakup para tetangga terdekat Sumira. Pada akhirnya, studi Lea mencakup seluruh kampung bahkan terlihat melampaui lingkungan kampung karena dipengaruhi oleh penggusuran kampung Kebon Kacang pada 1981.

Dalam mengerjakan penelitiannya ini, Lea mengalami kesulitan mendapatkan sumber-sumber tertulis yang menyangkut kampung tersebut. Hal ini membawanya kepada pencarian sumber lisan, yaitu dengan mewawancarai warga kampung tersebut. Dari sumber lisan ini, Lea kemudian berhasil mendapatkan sebuah penjelasan dinamika kehidupan kampung tersebut dengan memulai awal periode pada 1930-an. Kampung Kebon Kacang pada masa itu merupakan daerah pedesaan di pinggiran Batavia. Nama Kebon Kacang menunjukkan asal usul pedesaan kampung itu. Nama itu kemungkinan diambil dari sebuah tanaman yang banyak tumbuh di kampung tersebut, yaitu Kacang. Hal ini mengikuti penamaan kampung-kampung di Jakarta seperti Kebon Jeruk, Kebon Sirih, Kampung Sawah, dan Kota Bambu. Pada masa kolonial ini, penduduk kampung merasakan hal yang menyenangkan di bawah pendudukan Belanda. Hal ini disebabkan oleh jumlah penduduk yang masih sedikit sehingga polusi belum banyak terjadi, banyaknya lahan bermain untuk anak-anak, adanya tempat pertemuan, rimbunnya pepohonan, bebas berjalan kaki ke beberapa tempat, dan mudahnya menjalankan pekerjaan. Oleh sebab itu, penduduk kampung melihat masa ini sebagai masa normal dengan ketenteraman, ketertiban, dan ketenangan di kampungnya.

Datangnya Jepang membawa perubahan pada kehidupan penduduk kampung. Masa-masa normal di zaman Belanda menjadi berantakan. Pada masa ini, penduduk merasakan ketidakamanan dan ketidaknyamanan karena sulitnya menjalankan pekerjaan, mendapatkan makanan, pakaian, dan kebutuhan pokok lainnya. Hal ini terjadi selama rentang waktu tujuh tahun, yaitu pada 1942—1949. Rentang waktu ini disebut penduduk kampung sebagai masa perang. Setelah diakuinya kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 1949, penduduk kampung memasuki lagi sebuah masa baru yang disebut dengan masa merdeka 1949—1965. Pada masa ini, penduduk kampung seakan kembali ke masa normal karena kemudahan-kemudahan untuk mendapatkan kerja, papan, pangan, dan sandang. Meskipun jumlah penduduk di kampung tersebut bertambah, penduduk masih merasakan kemudahan-kemudahan dalam kehidupan mereka. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di kampung tersebut, rumah-rumah pun bermunculan. Warga pendatang yang berasal dari desa-desa di luar Jakarta seperti Depok, Klaten, dan sekitar Jawa Barat datang ke kampung tersebut untuk mengadu nasib di Jakarta. Dengan modal mimpi, mereka berkeinginan untuk merubah nasib mereka.

Kepadatan penduduk di kampung Kebon Kacang tampaknya membawa kekhawatiran pada Pemerintah Daerah Jakarta. Kampung Kebon Kacang, yang padat dan miskin, berada di pusat kota Jakarta yang merupakan citra sebuah kota dianggap pemerintah daerah akan merusak citra Jakarta. Karena alasan inilah, pemerintah daerah lewat pemimpin tertingginya, Gubernur Ali Sadikin, berupaya untuk mengubah wajah kampung tersebut. Kampung tersebut akan dirubah menjadi wilayah perkantoran dan permukiman yang lebih elit dan elegan. Gedung-gedung bertingkat akan dibangun, jalanan-jalanan lebar akan dibuat, dan hunian-hunian elit akan dikembangkan. Karena banyaknya pembangunan-pembangunan yang akan dilakukan oleh pemerintah daerah, maka penduduk kampung menyebut masa setelah 1965 sebagai masa pembangunan. Masa ini berlangsung selama lebih kurang 16 tahun dari 1965 hingga 1981. Pada masa setelah 1981, perlahan kampung Kebon Kacang mulai menghilang. Selain karena penggusuran yang dilakukan pemerintah daerah, hilangnya kampung Kebon Kacang juga diakibatkan mulai munculnya gedung-gedung dan perumahan baru yang lebih elit dan elegan. Pada masa inilah sebagian penduduk kampung yang kehilangan tempat tinggalnya mengalami kesulitan dalam banyak hal sehingga mereka menyebut masa ini sebagai masa kurang ajar. Akan tetapi, sebagian lagi menganggap masa ini merupakan masa awal bagi mereka untuk melakukan perubahan dalam standar hidup mereka setelah mereka mendapatkan uang ganti rugi penggusuran.

Metode Lisan yang dilakukan Lea untuk memahami dinamika kehidupan kampung ini dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat dan kampung itu sendiri. Metode lisan menangkap permasalahan dari dalam masyarakat itu sendiri. Dengan metode lisan inilah, Lea juga menggambarkan kehidupan sehari-hari para penduduk kampung tersebut. Bagaimana penduduk kampung bersosialisasi, menjalankan ibadahnya, dan bekerja digambarkan secara hidup oleh Lea. Kemiskinan yang dialami oleh sebagian penduduk kampung juga dapat dijelaskan melalui metode lisan dengan mewawancarai penduduk kampung. Dengan demikian, pengakuan jujur penduduk kampung terhadap kemiskinan yang menimpa mereka dapat keluar. Tentu saja dengan menyeleksi informasi-informasi dari setiap penduduk kampung.

Meskipun kajian Lea ini hanyalah kajian pada sebuah kampung di kota sebesar Jakarta, kajian ini mampu menjelaskan bagaimana dinamika kehidupan sebuah kampung kumuh. Potret sebuah kampung kumuh dengan pendekatan yang dilakukan oleh Lea dapat menghidupkan roh, tubuh, jiwa, dan raga dari sebuah kampung. Dengan demikian, gambaran tentang sebuah kampung kumuh di Jakarta dapat dilihat lebih jelas daripada sekadar foto satelit berupa perumahan padat yang terbuat dari kayu dan laporan-laporan tentang penghasilan penduduk sebuah kampung kumuh yang sangat kecil sehingga perubahan sebuah kampung yang pada awalnya adalah kebun sayur kemudian menjadi “kebun” beton dapat dijelaskan.

JAKARTA SEBAGAI SEBUAH TEKS : JAKARTA DIANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAH DAERAH 1945—1965

Dalam beberapa tulisan kedepan, saya mencoba mengkaji sejarah Kota Jakarta, terutama berkaitan dengan permukiman kumuh.

Kota ibarat sebuah teks. Ia dapat dibaca. Pembacaan kota dapat dilakukan dengan melihat perkembangannya. Perkembangan kota merupakan rangkaian kata-kata yang akan membentuk rupa kota itu. Seperti sebuah teks, maka kota tidak akan berarti tanpa kehadiran si penulis. Para penulislah yang menciptakan teks untuk para pembacanya. Sama halnya dengan teks, kota ditulis oleh para penulis. Para penulis itu adalah orang-orang yang memegang kekuasaan puncak di kota. Mereka ikut memengaruhi bagaimana kota diberi bentuk. Dalam memberi bentuk pada kota, mereka cenderung merefleksikan identitas mereka ke dalam kota. Karena setiap kota memiliki “penulis” yang berbeda-beda, maka setiap kota memiliki cirinya masing-masing. Jakarta sebagai sebuah kota memiliki para “penulisnya” sendiri. Oleh karena itu, Jakarta terbentuk oleh imaji silang yang khas antar penulisnya dengan melalui rangkaian waktu. Imaji silang antar penulisnya itulah yang akan memberi bentuk Kota Jakarta.

Jakarta yang coba dibentuk dan diberi arti oleh para “penulisnya” pada awalnya tidak lain adalah sebuah kertas kosong. Kemudian, ia diberi huruf-huruf yang membentuk rangkaian kata-kata. Dari sinilah para pembaca dapat membaca Jakarta sebagai teks. Untuk memahami sebuah teks, pembaca harus membaca teks tersebut dari awal sampai akhir teks. Hal ini disebut kronologi teks yang tidak lain merupakan masalah waktu. Begitu pula dengan Jakarta, Jakarta harus dibaca melalui lingkaran waktu. Tetapi, hal ini tidak berarti harus membaca Jakarta melalui pembacaan jauh ke belakang dimana awal teksnya diambil pada awal-awal perkembangan Jakarta. Ketika para pembaca ingin membaca Jakarta pada masa setelah kemerdekaan, maka ia dapat memulai membacanya pada masa kemerdekaan dengan didahului membaca Jakarta pada masa kolonial atau awal abad ke-20.

Jakarta setelah kemerdekaan berarti Jakarta yang diberi bentuk baru oleh para “penulisnya”. Kemerdekaan Indonesia pada 1945 merupakan peralihan kekuasaan dari tangan kolonial kepada jajahannya. Peralihan ini akan membawa dampak dekolonisasi bagi Jakarta. Jakarta yang sebelumnya ditulis oleh para “penulis” asing yang berusaha membentuk Jakarta sebagai simbolisasi kolonialisme mereka, kini memiliki “penulis” baru, yaitu orang-orang Indonesia. Kemerdekaan Indonesia membuat Jakarta berada di bawah yurisdiksi negara Republik Indonesia, bukan lagi di bawah Jepang atau Belanda. Peralihan ini ditandai dengan diangkatnya orang-orang pribumi sebagai administrator untuk mengembangkan Jakarta. Para administrator itu mempunyai seorang pemimpin yang bernama Soewirjo. Ia merupakan walikota pertama Jakarta setelah kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi, ia tidak lama memimpin Jakarta. Agresi Militer Belanda pada 1947 membuat Jakarta jatuh kembali ke tangan pemerintah kolonial. Dengan demikian, seluruh administrasi Jakarta untuk sementara ditangani oleh Belanda.

Ketika Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada akhir 1949, Jakarta diserahkan kembali kepada Republik Indonesia. Ini artinya Jakarta kembali di bawah administrasi walikotanya, yaitu Soewirjo. Sejak ini, Jakarta dibangun dan dikembangkan dengan imaji dan semangat baru. Imaji dan semangat baru yang merefleksikan nasionalisme, pos-kolonial, anti-imperalisme, dan anti-kolonialisme bangsa Indonesia. Imaji dan semangat baru yang berbeda dari pemerintahan kota sebelumnya yang berada di tangan pemerintah Hindia Belanda. Kini Jakarta coba dibangun dan dibentuk oleh orang-orang Indonesia sendiri. Dalam usaha membangun dan mengembangkan Jakarta itu, terdapat persilangan imaji antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah pusat dalam hal ini adalah Indonesia yang diwakili oleh Presiden Soekarno sedangkan pemerintah daerah adalah para administrator Kota Jakarta. Walikota atau gubernur Jakarta merupakan kekuatan yang dapat masuk ke dalam lingkaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Walikota Jakarta yang tidak termasuk dalam lingkaran pemerintah pusat adalah Soediro. Ia merupakan walikota Jakarta ketiga yang menggantikan walikota Jakarta kedua, Sjamsuridjal, yang juga tidak termasuk dalam lingkaran pemerintah pusat. Soediro bersilang pendapat dengan pemerintah pusat yang memiliki wewenang jauh dalam membangun dan mengembangkan Jakarta. Campur tangan yang terlalu jauh dari pemerintah pusat ini semakin terlihat ketika Jakarta masuk ke masa Demokrasi Terpimpin. Masa yang diawali dengan keluarnya konsepsi Presiden Soekarno tentang Demokrasi Terpimpin pada 1957 ini membuat Jakarta berada di bawah pengaruh yang sangat kuat dari pemerintah pusat yang diwakili oleh Presiden Soekarno. Jakarta kini mulai dibangun dan dikembangkan melalui imaji dan semangat dari Soekarno. Jakarta coba dijadikan sebagai mercusuar Indonesia dengan proyek-proyek ambisius Soekarno. Lebih dari itu, Soekarno juga menghendaki Jakarta menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Oleh karena itu, segala hal yang mengingatkan orang pada masa kolonialisme Belanda dihapus oleh Soekarno.

Pengaruh Soekarno yang kuat dalam menentukan kemana Jakarta akan menuju dapat dilihat dari perannya dalam menunjuk gubernur Jakarta. DPRD tidak menjadi pihak yang menentukan dalam pengangkatan gubernur. Soekarno dengan pengaruh besarnya mengangkat gubernur yang sejalan dengan visinya terhadap Jakarta. Setelah Soediro, ada dua gubernur yang memimpin Jakarta selama masa Demokrasi Terpimpin, yaitu Soemarno Sastroatmodjo (1960—1964) dan Henk Ngantung (1964—1965). Dua gubernur ini dapat dimasukkan ke dalam lingkaran pemerintah pusat karena sikap dan pandangan mereka yang sejalan dengan Soekarno. Pada masa dua gubernur inilah proyek-proyek seperti Jakarta By-Pass, Hotel Indonesia, Asian Games, Wisma Nusantara, dan Jalan Thamrin dimulai.

Dari proyek-proyek itu dapat dilihat bagaimana Presiden Soekarno mempunyai bayangan akan Jakarta yang indah dan maju. Jakarta yang ditujukan kepada tamu-tamu asing yang akan melihat keindahan dan kemajuan Jakarta dari atas; dari sebuah jendela hotel dan pesawat terbang. Hal ini karena keindahan dan kemajuan Jakarta itu baru tampak apabila seseorang melihatnya dari jauh, bukan dari dekat. Jakarta indah dilihat dari jauh, namun terdapat catat yang tidak dapat ditutupi jika orang melihatnya dari dekat. Permukiman liar dan kumuh adalah salah satu cacat tersebut. Masalah ini merupakan masalah yang tidak dapat ditangani oleh Soekarno ketika mencoba membangun Jakarta dengan imajinya. Permukiman liar sebagai perusak keindahan Jakarta telah coba dihilangkan Soekarno, yang merupakan pecinta keindahan. Akan tetapi, ia gagal. Ia hanya berhasil menutupi cacat itu tanpa berusaha menghilangkannya.

Jakarta sebagai sebuah teks merupakan kesatuan yang tak terpisah antar teks satu dengan teks lainnya, yaitu antar teks yang dibuat oleh penulis satu dengan teks yang dibuat oleh penulis lainnya. Ia tidak lain merupakan refleksi dari penulisnya. Penulisnya menghendaki Jakarta terbentuk sesuai imajinya. Akan tetapi, Jakarta bukanlah teks yang mati. Ia memiliki nyawa dan jiwa yang berasal dari penduduknya, yang sekaligus juga pembacanya. Oleh karena itu, apa yang dikehendaki penulisnya tidak selalu sejalan dengan keinginan pembacanya walaupun sang penulis memiliki pengaruh yang kuat dalam memberi arti dan membentuk teks tersebut.