Orang-orang dari mancanegara dengan gamis putih dipadu dengan rompi terlihat berlalu lalang sore itu. Sebagiannya lagi, dengan surban di kepala dan Al-Qur’an di tangan kanan, sibuk bicara dengan beberapa orang dari dalam negeri. Mereka bicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Tetapi, saya merasa familiar dengan logat dan bahasa mereka. Bahasa yang sering saya dengar di televisi dari film-filmya Shahrukh Khan. Lucu juga mendengar mereka bicara seperti itu. Begitulah suasana Kamis sore pada Masjid Kebon Jeruk di pertengahan 2005 ketika terakhir kalinya saya kesana.
Sekarang, kata seorang teman, suasana seperti itu tetap tidak berubah. Hanya kondisi fisik masjid saja yang berubah. Sekarang masjid itu lebih besar. Lantai tiganya sudah jadi. Padahal, ketika saya terakhir kalinya kesana untuk khuruj seminggu ke Bogor, pertengahan 2005, lantai tiga masih dalam pembangunan. Masjid yang menjadi markas kelompok-- entah kenapa orang-orang menamainya dengan nama ini--Jamaah Tabligh memang selalu hidup. Tidak saja karena salat lima waktunya, tetapi juga karena aktivitas lain seperti bayan dan amal jama’i lainnya. Seperti sebuah jantung, masjid itu mempunyai fungsi yang vital. Disanalah musyawarah dilaksanakan, ilmu diajarkan, amalan diterapkan, keagungan Nabi Muhammad diceritakan, kisah-kisah Shahabat diperdengarkan, dan kebesaran Allah dibicarakan.
Kini, empat tahun sudah saya tidak kesana. Ada hasrat untuk kembali kesana. Merasakan kembali kebersamaan makan, kearifan Maulana dari India, kedalaman pengetahuan orang-orang arif dan alim. Sudah terlalu jauh saya pergi, tetapi atapnya tak pernah hilang. Ia selalu menarik saya untuk kembali. Semakin jauh saya pergi, semakin besar keinginan untuk kembali. Sayangnya, begitu banyak jalan yang telah saya lalui. Saya pun lupa jalan pulang dan tersesat. Di jalan banyak petunjuk. Setiap petunjuk itu saya baca dengan seksama. Tak semua petunjuk mengarahkan ke jalan pulang. Ada yang mengarahkan saya ke suatu tempat dimana saya temukan orang-orang dengan logika luar biasa pintar, semangat besar, namun minus spiritualitas.
Ada pula yang mengarahkan saya ke sebuah tempat dimana berkumpul orang-orang dari berbagai macam rupa. Mereka bertempat di sebuah rumah tanpa fondasi. Bangunan rumah melayang. Memang luar biasa para pembangunnya. Saya pun masuk. Di dalamnya, permainan bebas tanda saya lakukan. Ekstasi yang dicari bukanlah makna, melainkan permainan tanda itu sendiri. Bukan Kebenaran, melainkan kebenaran-kebenaran. Semua perkataan diragukan. Tidak peduli apakah seseorang itu bergelar profesor, mahasiswa, atau rakyat jelata, semua pernyataan yang dikeluarkan diragukan. Tampaknya memang sangat menghargai setiap suara, tapi sebenarnya justu menimbulkan kekacauan dan kehancuran makna. Maximum tanda, minimum makna.
Rumah yang tanpa fondasi itu memang menggairahkan sekaligus menakutkan. Disana kesemuan bercampur dengan keabadian. Pahlawan tak bisa dibedakan dengan bajingan. Tuhan dan Setan sama-sama meniupkan kata-kata “arif”. Spiritualitas tak dinafikan, namun materialitas didengungkan habis-habisan. Di dalamnya tidak ada yang mapan. Semuanya harus menjadi lapuk, usang, dan kering. Kemudian diganti dengan yang baru. Yang baru itu nantinya menjadi yang lapuk, usang, dan kering dan kemudian diganti lagi dengan yang baru dari yang baru. Begitulah seterusnya. Nalar manusia dianggap tidak mampu mencapai sebuah konsensus. Tetapi, itulah yang dirayakan dari orang-orang di dalam rumah tersebut.
Untunglah atap dari masjid yang saya tinggalkan pergi itu tetap menjulang ke atas. Saya pun teringat dengan tujuan awal saya. Kembali ke sana. Tidak lain, tidak bukan. Saya pun keluar dari rumah itu dan berpamitan dengan orang-orang yang ada didalamnya, salah satunya seorang dari Jerman dengan kumis tebal. Dialah mahaguru orang-orang di rumah itu. Kembali saya menjadi pengembara. Petir dan halilintar menyambar seperti teror dan horor. Saya mencari tempat berteduh, tetapi semuanya rapuh dan reot. Di tengah jalan, saya bertanya “kenapa saya pergi? Padahal, ada sebuah tempat untuk berlindung, sebuah tempat untuk merenung, sebuah tempat untuk bernaung”.
Rupanya, kilau cahaya dan keindahan bentuk dari rumah-rumah yang mengelilingi masjid itulah yang membuat saya berhasrat ingin mendatangi dan kemudian memasukinya. Dari jauh, setiap rumah itu dibangun dengan cara yang modern. Dengan rumusan ilmu teknik, arsitektur, geometri, dan matematika lanjut, tak heran rumah-rumah itu terlihat megah dan mewah dari luar meskipun ada yang dibangun tanpa fondasi dan rumusan-rumusan itu. Entah bagaimana rumah itu dapat berdiri. Setelah saya datangi dan masuki satu persatu, rumah-rumah itu tidaklah lebih baik dari sebuah masjid yang pernah saya singgahi. Penghuninya banyak, namun kebingungannya luar biasa dalam. Ada juga rumah yang hanya untuk sebagian kalangan.
“Kemana jalan pulang?”, tanya saya di tengah jalan. Ternyata tidak semua petunjuk itu membawa ke arah yang benar. Petunjuk itu harus dibaca dengan seksama. Bahkan, ada banyak petunjuk yang tersembunyi yang tidak ditemukan dengan pencerapan panca indra. Dalam perjalanan pun, banyak orang-orang yang mencari jalan pulang yang jika saya bertanya kepada mereka, mereka jawab dengan jujur dan kadang bohong.
Pada sebuah waktu, saya bertemu dengan bintang. Dia tidak berkata apa-apa. Karena saya terpesona cahayanya, saya ikuti bintang itu. Dari mengikuti bintang itu, saya banyak temukan petunjuk untuk kemudian saya baca dengan seksama. Saya seolah lupa bahwa saya seharusnya tak mengikuti bintang itu sebab bukanlah dia tujuan utama. Namun, tiba-tiba tanpa saya sadari, saya sudah berada kembali di depan masjid yang pernah saya tinggalkan. Di depan masjid, saya baru tersadar, bahwa yang saya cari sebenarnya adalah masjid itu, bukan sang bintang. Pun begitu, ia telah membantu saya meski tanpa berkata apa-apa. Dan kini, saya pulang dengan banyak membawa keranjang, baik yang berisi batu maupun buah.
Jum’at, 27 Maret 2009, Srengseng Sawah.
