Mengenai Kami

Sejarah Merah adalah sekelompok mahasiswa sejarah UI yang resah terhadap pahit getir dan remuk-redamnya negeri dan bangsa ini. Melalui pembangunan kesadaran sejarah yang kuat pada individunya, Sejarah Merah UI bermaksud membuat negeri ini menjadi suatu tempat yang layak untuk ditinggali oleh manusia. Bagaimana caranya? Membuat diri sendiri merasa nyaman dan kerasan hidup di negeri ini dengan berbagai macam acara seperti studi, diskusi, aksi, musik, nonton film, olahraga, dan naik gunung. Lihat tulisan-tulisan kami lainnya di sejarahmerahui.blogs.friendster.com. Silakan kirim saran dan kritik anda terhadap tulisan kami ke sejarahmerahui2@yahoo.co.id atau sejarahmerahui@gmail.com. Terima Kasih.

Senin, 19 Mei 2008

Antara Barat dan Timur

Vitam inpendere vero (pertaruhkan hidup pada kebenaran) kata salah seorang dari kami ketika ngobrol-ngobrol di kantin menara UI atau yang sekarang kami lebih sering sebut sebagai kantin sesat. Siang itu, seperti biasa, kami selalu menghabiskan jam istirahat makan siang untuk berbaur bersama de verworpenen der aarde (yang tertindas atau tersingkirkan) atau sekadar merenungi apa yang telah kami lalukan dan apa yang telah terjadi. Obrolan kami kali ini berkisar pada masalah memilih Barat atau Indonesia.



Kami sepakat bahwa generasi muda, termasuk kami, sekarang lebih memilih Barat sebagai pedomannya. Hegemoni Barat benar-benar menenggelamkan Indonesia. Semua hal yang berasal dari Barat seperti ideologi, fashion, ilmu, hingga film porno diterima secara taken for granted. Sementara semua hal yang berasal dari negeri ini, sama sekali tidak menarik generasi muda. Maka jangan heran jika kemarin dalam acara ASEAN’s Snapshots di Channel News Asia, Ki Manteb kecewa sekali dengan generasi muda yang abai terhadap wayang meskipun UNESCO telah mendaftarkan wayang sebagai world heritage.



Kami mencoba berpikir seandainya tokoh-tokoh intelektual pergerakan nasional seperti Ki Hajar, Tjokroaminoto, Hatta, Syahrir, Soekarno, dan lainnya (kalian membuat semangat kami tetap hidup sebagai orang Indonesia) menyerah dan menerima semua hal dari Barat taken for granted. Apakah Indonesia akan merdeka dan lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang? Namun, memang dalam sejarah kata ‘seandainya’ haram hukumnya untuk diajukan. Sejarah tidak mengenal kata ‘seandainya’, ‘kalau’, dan sebagainya. Yang jelas mereka tidak meninggalkan ke-Indonesiaan dan itulah yang membuat sebagian dari mereka berjuang untuk melepaskan belenggu penjajahan.



Kaum pergerakan nasional yang turut belajar di negara-negara Eropa jika tidak mempunyai ke-Indonesiaan pastilah tidak akan pernah mau kembali lagi ke negeri Hindia Belanda. Hatta, Syahrir, dan Tan Malaka adalah mereka yang tidak silau oleh Barat. Mereka bisa saja mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan tinggal di Eropa karena pendidikan yang mereka terima. Namun, apa yang membuat mereka kembali dan berjuang mempertaruhkan kebebasan, keluarga, dan rekan mereka? Hanya satu kata, Indonesia.



Seorang dari teman kami berpendapat bahwa apa yang mereka lakukan adalah vitam inpendere vero. Mereka meyakini apa yang mereka anggap benar. Dan itulah alasan mengapa mereka tetap menjadi Indonesia. Padahal jika dipikir-pikir, mereka adalah salah satu generasi pertama yang benar-benar merasakan bagaimana kejayaan peradaban Barat. Kami sangat yakin bahwa mereka mengalami kegamangan ketika mereka harus menerima peradaban Barat dalam masa studi mereka. Menurut Hendri, sebagian students Indonesia yang ke negeri Eropa untuk pertama kalinya mengenal dan menyentuh bioskop, kafe, wine, dan sebagainya karena mendapat kesempatan pergi ke Eropa untuk studi.



Mereka juga mulai mengenal ide-ide Barat seperti nasionalisme, liberalisme, marxisme, dan sosialisme. Mereka harus memilih, apakah mereka harus mempertahankan nilai-nilai lokal yang mereka anut atau mengambil ide-ide baru dan meninggalkan semua nilai-nilai lokal atau menyerap nilai-nilai Barat ke dalam nilai-nilai lokal? Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang kritis. Mereka tidak sepenuhnya meninggalkan semua nilai-nilai Indonesia seperti nilai Jawa dan Sumatera. Mereka memelajari peradaban Barat, namun mereka tidak take them for granted.



Peradaban Barat jelas membantu kita dalam meraih kemerdekaan. Namun, apakah itu berarti kita harus melupakan peradaban kita? Peradaban yang telah dibentuk ketika Barat belum mampu membuat jamban, ketika Barat takut mandi, dan ketika Barat meminum darah sebagai makanan penutup. Peradaban Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua sebagai peradaban Indonesia haruslah tetap kita pertahankan. Kita tidak boleh menyerah hanya karena melihat Barat sekarang jauh lebih maju daripada Timur atau Indonesia. Seni arsitektur, lukisan, drama, dan patung Barat memukau karena kita tidak pernah secara sadar melihat seni-seni kita.



Jika tanpa harapan dan rasa nasionalisme, sulit memang berharap generasi muda berpaling ke Indonesia kembali. Harapan adalah alasan mengapa kita harus terus bertarung melawan hegemoni Barat dalam budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, film porno, dan sebagainya. Harapan akan Indonesia yang lebih baik membuat kita akan tetap bertahan dan mencintai negeri ini, buruk dan baiknya. Sedangkan nasionalisme adalah dorongan bagi kita untuk berbuat sesuatu bagi negeri ini. Anthony Giddens berpendapat Runaway World-nya akan mengikis habis batas-batas kebangsaan dan kenegaraan secara global. Namun, Indonesia mempunyai sejarah identitas bangsa yang tidak akan dikalahkan begitu saja dengan globalisasi.



Sejarah perjuangan kelompok pergerakan nasional yang diajarkan di sekolah tidak akan kalah dengan globalisasi jika pendidikan sejarah terus ditanamkan. Dengan begitu, generasi muda tidak akan kehabisan kisah-kisah heroik. Rasa nasionalisme pun akan timbul sebagai akibat dari kesadaran identitas yang sama dan kesadaran karena dibesarkan orangtua dengan cinta, harapan, dan terkadang benci, di tempat yang sama, yaitu Indonesia. Nasionalisme pun tidak akan menjadi sempit, karena dalam sejarah, kita tahu bagaimana kemerdekaan diraih dengan menyerap peradaban Barat dan bantuan negara lain.



East is East and West is West never the twain shall meet. But, there is neither East nor West, Border nor Breed nor Birth, when two strong men stand face to face, though they come from the end of the earth, kata Rudyard Kipling. Kipling yakin bahwa Barat dapat saja bertemu dengan Timur. Begitu pula dengan kami di Red History. Karena itu, tidak semua yang dari Barat kita harus tolak. Generasi muda dapat mengambil dan kemudian menyerapnya untuk mendampingi peradaban Indonesia. Di sini generasi muda dapat mengganti nilai-nilai lama yang memang tidak berguna seperti feodalisme, bapakisme, dan ewuh pakewuh dengan semangat egaliterianisme Barat.



Indonesia belum memberikan kita cita-cita yang kita harapkan. Korupsi, ketidakadilan, pengangguran, kemiskinan, perpecahan suku merupakan hambatan bagi tercapainya Indonesia yang kita idamkan. Oleh karena itu, negeri ini masih membutuhkan kita, para generasi muda, sebagai tenaga pembangun. Jeleknya kondisi negeri ini tidak seharusnya membuat kita lupa diri sehingga kita berpaling pada Barat sepenuhnya. Meninggalkan negeri ini sama saja membuka ruang bagi semua warisan kebudayaan, kesenian, dan sumber daya energi negeri ini dikuasai asing. Hilangnya uranium, hutan, tempe, keroncong, dan lainnya adalah karena kita tidak pernah menghargainya.



Pernahkah orang-orang di negeri ini membuat karunia Tuhan itu merasa betah tinggal di Indonesia? Bagaimana keroncong, wayang, dan reog mau betah tinggal di Indonesia jika ruang tampil mereka sangat terbatas. Jazz seharian penuh dari pagi hingga malam, sementara keroncong hanya satu atau dua jam di tengah malam, siapa yang mau mendengar? Kini, kita harus sadar bahwa kita memiliki kekayaan dan keunggulan yang melebihi negara manapun di dunia. Dua hal itu adalah kesenian dan kebudayaan. Mengapa itu tidak kita munculkan?



Barat boleh mempunyai menara Eifel, Big Ben, dan Colloseum. Namun, Indonesia mempunyai lebih dari itu, dari yang mereka tidak miliki, yaitu bahasa, tarian, rumah adat, suku, dan wayang. Adalah hal yang sulit untuk menjaga itu semua tetap utuh dalam satu atap. Dan adalah tugas kita untuk menjaga hal itu tetap utuh dalam satu atap. Maka, kami semua anggota Sejarah Merah yang ada di kantin sesat memilih Indonesia, bukan Barat. Adapun jika kita bergabung ke Barat, bukan berarti kita kalah. Kita belajar mengalahkan mereka dengan bergabung bersama mereka. Akhirnya, diskusi ditutup dengan minum teh bersama dan celetukan Jawa dari mulut teman kami, suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti (kebaikan akan mengalahkan kebatilan). Dan kami pun kembali kuliah...
Jakarta, 5 Desember 2007 pukul 23.45 WIB


Tidak ada komentar: