Kemarin, Sabtu, 20 Desember 2008, Bima dan saya pergi ke FKUI untuk menghadiri diskusi buku Liku-Liku Hidup karya seorang dokter, Daldy. Ia adalah seorang dokter lulusan FKUI. Sekarang, ia merupakan guru besar emeritus FKUI. Karena waktu senggangnya sebagai guru besar emeritus cukup banyak, ia menulis novel. Dokter menjadi seorang pengarang memang sudah jamak. Sebelumnya, Taufik Ismail, Asrul Sani, dan Boris Pasternak (peraih nobel sastra dengan novelnya Dokter Zhivago) telah menisbatkan dirinya dari seorang dokter ke pengarang, bahkan sastrawan. Antara dokter dan sastrawan sendiri, saya tidak melihat perbedaan yang substansial. Dokter menyembukan masyarakat, pun begitu dengan sastrawan. Melalui karya-karyanya, ia berusaha menyembuhkan "penyakit" masyarakat yang berasal dari emosi dan hati. Dehumanisasi, ketidakpeduliaan, kejahatan, penindasan, dan ketidakadilan merupakan beberapa "penyakit" masyarakat. Penyakit-penyakit tersebut tidak bisa hanya disembukan dengan obat dari para dokter, Penyakit tersebut bersemayam dalam pikiran, emosi, dan hati manusia. Perlu sebuah obat khusus yang mampu menembus tembok tebal pikiran, emosi, dan hati manusia. Adalah kata-kata yang dapat melakukannya. Kata-kata yang terangkai dalam sebuah balutan kalimat-kalimat penuh kejujuran dan makna.
Pada diskusi terbatas tersebut, saya menjadi salah seorang pembicaranya. Agak kaget juga ketika saya diundang oleh seorang teman untuk jadi pembicara disana. Apalagi ketika saya tahu bahwa Putu Wijaya juga menjadi pembicara. Untunglah teman saya memberitahu bahwa ada seorang pembicara lagi dari mahasiswa. Pembicara dari mahasiswa memang dihadirkan untuk melihat novel tersebut dari sudut pandang mahasiswa. Novel Prof Daldy, begitu sang pengarang akrab dipanggil, menceritakan seorang mahasiswi psikologi semester tujuh yang harus merawat seorang pemuda cacat mental berusia 14 tahun secara biologis dan 4 tahun secara psikologis. Novel ini adalah novel populer. Covernya yang terang, konfliknya yang sederhana, kejelasan pesan, dan bahasa yang sederhana membuat saya menempatkan novel ini pada kategori novel populer. Saya tidak mempermasalahkan itu. Apalagi sang pengarang sendiri adalah seorang dokter yang belajar menulis fiksi secara otodidak. Sebelumnya, ia terbiasa menulis dengan gaya yang sangat ilmiah.
Kehadiran novel populer tidak harus disambut secara apriori. Sama halnya dengan kritik umum sastra yang tidak seharusnya disambut secara apriori Jika sastra ingin ikut berperan dalam peradaban manusia dan tidak ingin hanya menjadi karya monumental yang berada di ruang bernama menara gading, ia harus siap menerima segala macam inovasi. Toh, dalam sastra sendiri inovasi merupakan hal yang biasa. Inovasi muncul ketika konvensi dalam sastra dilanggar. Dan dari inovasi itu sendiri nantinya membuat sastra berkembang. Novel populer sebagai salah satu bentuk inovasi itu dapat menjangkau masyarakat bawah. Novel populer sendiri, seperti halnya novel serius, ada yang bagus dan jelek. Novel populer yang baik antara lain karya Hilman dan Mira W. Yang jelas, dalam novel populer yang bagus, unsur hiburan lebih ditekankan. Tetapi, hal itu tidak menghilangkan unsur kegunaan dari novel itu sendiri. Novel jenis ini cocok untuk diapresiasi pada sekolah menengah pertama dan menengah atas. Keunggulan novel jenis ini adalah pembaca tidak akan dibuat pusing dan bosan dengan alur dan ceritanya. Dengan demikian, kehadiran novel populer dapat mengobati bangsa Indonesia, yang kalau kata Taufik Ismail, buta baca dan lumpuh menulis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar