Israel telah menyerang wilayah Jalur Gaza selama 13 hari. 700 orang penduduk Gaza tewas akibat serangan itu dan ribuan lainnya luka. Tua, muda, laki, perempuan, pejuang, sipil, dewasa, dan anak-anak merupakan korbannya. Tidak pandang bulu. Mereka kini telah disatukan oleh satu nama, korban. Komunitas dunia protes keras menuntut serangan itu dihentikan. Sementara itu, sebagian lainnya memilih diam. Warga muslim di berbagai belahan dunia tersulut kemarahannya karena serangan Israel sehingga ada yang ingin ikut berperang disana. Adalah wajar bahwa mereka marah. Justru yang tidak marah dan lebih memilih diam itulah yang tidak wajar.
Tiap hari korban jatuh akibat perang, baik yang luka maupun yang tewas. Sulit dipercaya bahwa di zaman dialog ini, perang masih dianggap jalan utama penyelesaian masalah. Yang lebih sulit dipercaya lagi adalah masih ada negara-negara yang menggunakan politik ekspansionis-militeristik untuk menjamin kepentingan dalam negerinya. Pengalaman Perang Dunia I dan II rupanya tidak memberi pelajaran bagi negara-negara tersebut. Sebuah tata dunia baru yang diteriakkan oleh mereka hanya omong kosong. Sejarah kelam perang mereka injak-injak. Bagi mereka, sejarah adalah seorang nenek ompong yang komat-kamit mengeluarkan kata-kata basi.
Tangis ibu di Palestina seperti terdengar sampai ke Jakarta. Begitu pula dengan tangis ibu dari tentara Israel yang tewas akibat perang. Tangis ibu itu universal. Tidak peduli dia adalah orang Palestina atau Israel, Muslim atau Yahudi. Tangis ibu adalah bahasa penderitaan. Penderitaan atas mereka yang terjebak perang. Penderitaan akibat hilangnya rasa aman, harta benda, keluarga, sanak saudara, teman, bahkan jiwa mereka sendiri. Akan tetapi, dalam perang hal tersebut tidaklah berarti. Terlebih lagi kematian. Sebagian orang menganggap itu wajar. Namanya perang, pasti memerlukan korban dan penderitaan.
Perang, sebagai cara utama untuk penyeleasaian masalah, merupakan ciri kebebalan pikiran manusia. Ia menegasikan daya guna akal budi. Oleh karena itulah, mereka yang memulainya merupakan manusia-manusia bebal. Mereka mengkhianati anugerah akal budi. Akan tetapi, perang sendiri memang akan tetap ada. Seperti halnya kalah dan menang, mati dan hidup, perempuan dan laki yang memiliki pasangan, perang juga memiliki pasangan. Perang adalah pasangannya damai. Karena itu, perang akan tetap ada. Meski tak dapat dihindari, perang bukan tidak mungkin untuk dicegah. Dialog adalah cara utama penyelesaian masalah sebelum perang. Jika dialog menemui jalan buntu dan perang harus terjadi, perang harus tetap membuat manusia tetap beradab.
Perang bukanlah pelampiasan amarah. Ia merupakan pilihan yang terburuk. Karena manusia dikaruniai akal budi, ia dapat mengetahui bahwa perang selalu menimbulkan penderitaan. Oleh karena itu, manusia berusaha untuk meminimalkan penderitaan. Dibuatlah aturan mengenai perang untuk membuat manusia tetap beradab. Konvensi Jenewa tentang perang pun disahkan dan harus ditaati semua negara. Jauh sebelumnya, Islam telah mengeluarkan aturan-aturan tentang perang. Jelas sekali, dalam Konvensi Jenewa penduduk sipil tidak boleh diserang. Lebih manusiawi lagi adalah aturan Islam yang bahkan melarang merusak pohon dan tempat ibadah.
Sayang sekali, di masa modern ini, aturan-aturan perang tersebut terlalu kerapkali dilanggar. AS dan Israel adalah pihak yang kerap melanggar aturan-aturan tersebut sehingga penderitaan akibat perang itu benar-benar merata. Kekuatan mereka memungkinkan mereka untuk melakukannya. AS melakukannya terhadap Vietnam, terhadap Afghanistan, dan terhadap Irak. Sementara Israel melakukannya terhadap Palestina. Perang yang mereka lakukan pun terlalu sering didasarkan atas alasan yang bebal. Ini mencerminkan watak asli pemerintah mereka.
Ketika jelas bahwa aturan-aturan perang dilanggar dan imperialisme kuno dipentaskan kembali oleh AS dan Israel, dua sahabat karib yang saling mendukung dan menyukai perang, PBB tidak berdaya. Dan kini, ketidakberdayaan PBB semakin jelas terlihat dalam masalah penyerangan Israel di Jalur Gaza. PBB membiarkan Israel menyerang permukiman sipil, membunuh anak-anak, dan mencegah masuknya bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza. Yang lebih parah, pemerintah negara tetangga Palestina seperti Mesir, Yordania, dan Arab Saudi memilih cari aman dengan membiarkan serangan Israel yang tidak didahului dengan alasan yang mencukupi menurut hukum internasional. Saya seperti tidak melihat Islam di tiga negara tersebut, yang saya lihat hanyalah muslim.
Kediaman mereka berarti pembenaran atas sikap ekspansionis-militeristik Israel. Kediaman mereka juga berarti pengkhianatan besar terhadap Islam yang mereka yakini. Ini akan menimbulkan radikalisme baru. Setiap radikalisme selalu akan membuat penderitaan warga sipil bertambah. Apatisme pun berkembang. Fasisme tinggal menunggu waktu untuk bangkit. Dan ini telah ditunjukkan oleh pemerintah Israel. Sejarah mereka yang penuh dengan kisah penindasan NAZI terhadap bangsa Yahudi kini diulang oleh Israel. Mereka belajar dari NAZI bahwa cara untuk tetap hidup adalah mempraktekan apa yang dilakukan NAZI terhadap mereka. Bangsa Palestina, oleh Israel, dijadikan Yahudinya Israel. Dan semua itu akibat perang yang sebenarnya tidak jelas maksud dan tujuannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar