Hujan menjadi teman setia di pagi hari saat saya memulai semester yang baru. Hari pertama masuk, Selasa, 3 Februari 2009, hujan turun di pagi-pagi buta saat saya belum sepenuhnya membuka mata. Untunglah, menjelang masuk jam kuliah hujan berhenti. Saat baik untuk pergi ke kampus. Matahari tidak begitu terik, suhu udara sangat nyaman setelah hujan. Di jalanan kampus, saya melihat satu-dua bus-bus kuning baru. Bus itu dioperasikan pada Senin, 2 Februari 2009, tepat pada hari pertama kuliah di kampus yang rindang itu. Berbeda dengan bus kuning sebelumnya, bus itu memiliki pendingin udara dan dimensi yang lebih besar. Di bagian belakangnya ada sebuah tulisan berbunyi “Use mass transportation to reduce air pollution”.
Kampus yang rindang itu tidak tampak begitu berbeda secara fisik di awal semester baru ini. Hanya pembangunan jalur sepeda yang sedikit mengubah fisik kampus itu. Selebihnya tidak ada. Tetap sama seperti semester sebelumnya. Perubahan besar justru terjadi di jiwa kampus itu. Memang belum sepenuhnya berubah. Akan tetapi, perlahan tapi pasti, jiwa kampus itu akan berubah. Ia akan berubah menjadi kampus berjiwa kapital dengan kedangkalan filosofis. Sebelum tiba semester yang baru ini, sebuah undang-undang yang mengatur pengelolaan kampus itu disahkan. Jadi, semester yang baru ini akan menjadi awal dari perubahan jiwa kampus ini. Sedikit yang memperhatikan, tetapi banyak yang mengabaikan.
Di kampus itu, para resi muda dari berbagai penjuru negeri ini digodok. Mereka seperti ditempatkan pada sebuah kawah candradimuka. Para resi muda itu sepanjang sejarahnya, sangat bangga dengan identitas dirinya. Mereka senang mengenakan jubah kuning dan menyembah berhala berupa lambang pohon pengetahuan dengan air yang memancar. Dua benda ini mempunyai kekuatan yang dahsyat. Dengan memilikinya, seseorang akan disegani oleh orang lain. Saking saktinya, dua benda ini dapat menarik uang begitu banyak dari orang lain. Banyak orang saling berebut untuk memiliki dua benda ini tanpa disadari oleh mereka bahwa kedua benda ini tidak memiliki kekuatan apa-apa selain kesemuan dan kepalsuan yang dibuat-buat, yang menjadi kesaktian yang diterima sedemikian rupa. Dua benda itu selalu dicitrakan penuh dengan kedalaman, tetapi sebenarnya rapuh dengan kedangkalan.
Benda-benda itu nantinya hanya akan dimiliki oleh mereka yang mempunyai kapital yang besar, baik uang maupun barang. Mereka pun nantinya akan mereproduksi citra dari dua benda itu. Citra tentang penghormatan, pengorbanan, pengetahuan, kebesaran, dan kearifan. Mereka pun berhasil memasukkan pemahaman itu kepada mayoritas diam yang terdiri dari mereka yang nomaden, yaitu para pedagang kaki lima, para penghuni rumah-rumah kumuh, para tukang ojek, dan para sang kalah yang lain. Mereka akan dipaksa secara halus oleh pemilik dua benda itu untuk tunduk kepada pemiliknya. Setelah para pemilik benda itu sudah puas memakai dua benda itu, mereka kemudian mewariskannya kepada keturunan mereka. Begitulah seterusnya, dua benda itu selalu jatuh kepada keturunan pemiliknya.
Tergoda akan kesaktian dua benda itu, kaum nomaden berusaha pula memilikinya. Mereka sudah telanjur dikonstruksi oleh citraan-citraan semu kaum kapital tersebut. Oleh kaum kapital yang berselubungkan jubah kuning resi kampus itu, mereka dipaksa mengejar tanda dari dua benda itu. Mereka hanya mengejar tanda, bukan makna. Pada akhirnya, mereka tidak akan pernah mendapatkan makna dari mengejar dua benda itu karena mereka memang dibuat sedemikian rupa untuk tidak memilikinya. Kalau mereka memilikinya, keturunan dari para pemilik dua benda itu tidak akan mendapatkan warisannya. Begitulah jiwa kampus ini perlahan akan berubah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar