Mengenai Kami

Sejarah Merah adalah sekelompok mahasiswa sejarah UI yang resah terhadap pahit getir dan remuk-redamnya negeri dan bangsa ini. Melalui pembangunan kesadaran sejarah yang kuat pada individunya, Sejarah Merah UI bermaksud membuat negeri ini menjadi suatu tempat yang layak untuk ditinggali oleh manusia. Bagaimana caranya? Membuat diri sendiri merasa nyaman dan kerasan hidup di negeri ini dengan berbagai macam acara seperti studi, diskusi, aksi, musik, nonton film, olahraga, dan naik gunung. Lihat tulisan-tulisan kami lainnya di sejarahmerahui.blogs.friendster.com. Silakan kirim saran dan kritik anda terhadap tulisan kami ke sejarahmerahui2@yahoo.co.id atau sejarahmerahui@gmail.com. Terima Kasih.

Senin, 19 Mei 2008

Hikayat Sejarah Merah

Suatu hari, sekelompok cerdik pandai muda dari sebuah kampus di negeri yang sedang mengalami karut-marut politik dan ekonomi karena masuknya modal asing, berkumpul. Sudah menjadi sifat dasar cerdik pandai jika berkumpul selalu mengobrol ngalor-ngidul. Dari ngobrol ngalor-ngidul itu kemudian terlontar ide untuk mendirikan sebuah perkumpulan bernama Studi Klub Sejarah.

Studi Klub Sejarah adalah sebuah perkumpulan dari sekelompok cerdik pandai yang memiliki keahlian pada cerita-cerita masa lalu. Perkumpulan ini terus hidup melintasi beberapa zaman. Tercatat, lima zaman yang sudah dilintasi perkumpulan ini. Mulai zaman Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati, hingga SBY.

Perkumpulan ini memiliki banyak kegiatan bagi individunya, antara lain ngobrol serius dan tidak, jalan-jalan, seminar, dan sebagainya. Individu di dalam perkumpulan ini tentu merasa senang dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut. Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut, individu dalam perkumpulan itu semakin sering bertemu. Dan dari saling bertemu itulah mereka kemudian mendirikan beberapa komunitas alternatif. Lumrah memang jika melihat sifat dasar manusia yang dinamis.

Komunitas-komunitas alternatif dalam perkumpulan itu sendiri tidaklah bertanggung jawab kepada perkumpulan itu. Komunitas alternatif itu juga bukan merupakan sebuah perkumpulan tandingan terhadap perkumpulan itu. Lahirnya komunitas-komunitas alternatif itu lebih disebabkan hubungan yang intens antara individu perkumpulan itu. Di zaman sekarang kita menyebutnya peer group.

Di zaman SBY, dari rahim perkumpulan itu lahir sebuah komunitas alternatif yang bernama Foksraad (Forum Kajian Sejarawan Muda). Foksraad lahir pada hari Jum’at, 19 Desember 2006 di payung Gedung IX FIB UI jam 14.00 WIB. Kelahiran Foksraad bukan untuk menandingi perkumpulan yang telah lama dan resmi berdiri. Kelahiran Foksraad lebih merupakan usaha untuk mengisi kekosongan kegiatan, terutama diskusi, dari perkumpulan sebelumnya.

Foksraad sendiri tidak berumur panjang. Hal ini disebabkan pindahnya seorang cerdik pandainya ke fakultas lain. Cerdik pandai itu bernama Yahdi. Kepergian beliaulah yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Foksraad redup setelah sebelumnya sempat bersinar. Kepergiannya jugalah yang disesalkan oleh salah seorang pendiri Foksraad bernama Hendaru. Bukan karena redupnya Foksraad atau karena Yahdi masuk FHUI, tetapi lebih disebabkan tidak adanya lagi figur yang bisa dijadikan bahan ceng-ngan.

Redupnya Foksraad rupanya justru menyuburkan lahirnya komunitas-komunitas alternatif di perkumpulan itu. Meskipun begitu, hal itu tidak berarti terjadi perpecahan di dalam perkumpulan itu. Perkumpulan SKS tetap menjadi prioritas utama. Adanya komunitas alternatif lebih sebagai akibat hubungan yang intens dan kenyamanan pertemanan antar beberapa individu di perkumpulan itu.

Komunitas-komunitas alternatif yang muncul dari jasad Foksraad antara lain Historian Brotherhood, Lonely Historian Club, Black Jacket People, Lakeside Society, Geng Kambing, dan Geng Kampret. Komunitas-komunitas itu memiliki individu-individu yang berbeda minat, kajian, pengetahuan, kelamin, orientasi seksual, dan sebagainya. Akan tetapi anehnya, komunitas-komunitas itu kemudian bersinergi. Dari sinergi itu lahirlah sebuah komunitas baru bernama Sejarah Merah.

Tidak jelas kapan pastinya Sejarah Merah itu lahir. Yang pasti dua kata itu, Sejarah dan Merah, telah digunakan oleh Insan, seorang pendiri Lonely Historian Club, sejak awal tahun 2007. Dan istilah itu terus populer sejak berpulangnya seorang anggota perkumpulan SKS, Yasser (semoga Tuhan selalu memberkatinya).

Istilah Sejarah Merah menurut Insan adalah sebuah istilah bagi komunitas alternatif di luar perkumpulan arus utama. Akan tetapi, komunitas itu bukanlah musuh atau tandingan dari perkumpulan arus utama. Komunitas itu bertujuan untuk membantu individunya bereksistensi dan beresensi dengan berpikir, bersenang-senang, dan bercinta.

Kata “merah” yang mengikuti kata “sejarah” tadinya mempunyai arti berani dan berarti. Warna merah memiliki arti umum berani. Sementara arti berarti didapat dari warna merah sebagai warna hati. Hati menandakan kekuatan perasaan manusia terhadap sesamanya dan lingkungannya sehingga dengan adanya hati manusia dapat menjadi lebih berarti. Sementara kata sejarah merefleksikan individunya yang menggilai bidang itu.

Kemudian, atas usulan dari Hendaru, istilah Sejarah Merah sebaiknya ditafsirkan semaunya saja oleh setiap individunya. Hal ini karena kata “merah” yang mengikuti kata “sejarah” mempunyai banyak arti, tergantung dari latar belakang si pengarti. Inilah yang ia sebut relativisme budaya. Individu yang lain pun sepakat. Sekarang istilah Sejarah Merah hanya dipakai untuk menggambarkan sebuah komunitas dari individu-individu aneh yang berniat melakukan perubahan untuk negeri ini dengan cara apapun yang non-praktis yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Kini, Sejarah Merah mulai belajar untuk memaknai hidup. Oleh karena itu, mereka berniat mencoba sedalam-dalamnya kehidupan ini hingga ke sum-sumnya. Dengan berbagai kegiatan, individu Sejarah Merah mencoba mengerti apa tujuan dan maksud hidup mereka sebagai mahasiswa sejarah. Dan itu adalah sebuah bentuk penunjukkan eksistensi manusia. Ini sesuai dengan konsep hidup dari seorang pendiri Sejarah Merah, Hari Darmawan.


Tidak ada komentar: