Mengenai Kami

Sejarah Merah adalah sekelompok mahasiswa sejarah UI yang resah terhadap pahit getir dan remuk-redamnya negeri dan bangsa ini. Melalui pembangunan kesadaran sejarah yang kuat pada individunya, Sejarah Merah UI bermaksud membuat negeri ini menjadi suatu tempat yang layak untuk ditinggali oleh manusia. Bagaimana caranya? Membuat diri sendiri merasa nyaman dan kerasan hidup di negeri ini dengan berbagai macam acara seperti studi, diskusi, aksi, musik, nonton film, olahraga, dan naik gunung. Lihat tulisan-tulisan kami lainnya di sejarahmerahui.blogs.friendster.com. Silakan kirim saran dan kritik anda terhadap tulisan kami ke sejarahmerahui2@yahoo.co.id atau sejarahmerahui@gmail.com. Terima Kasih.

Sabtu, 20 Desember 2008

Minggu Kesedihan

Ada yang datang dan ada yang pergi. Ada yang pulang dan ada yang tiba. Silih berganti. Akan tetapi, ada pengecualian untuk yang satu ini. Untuk seorang dosen yang telah menanamkan kesan mendalam bagi beberapa orang mahasiswanya. Untuk seorang dosen yang gigih mempertahankan ide-idenya, yang sudah dianggap usang. Untuknya, tidak ada istilah datang dan pergi;pulang dan tiba. Ia tetap hadir meski sudah tidak ada. Kehadirannya jauh melampaui arti saat ia masih ada. Kehadirannya jauh melampaui makna saat ia masih mengajar. Pak Boas, begitu panggilan akrab dosen bernama lengkap Singkop Boas Boangmanalu, telah tiada minggu lalu, 15 Desember 2008.

Dalam ketiadaannya, ia kini mungkin sedang berdialog dengan Marx, Nietzsche, dan Dostoievsky. Tiga orang tokoh yang amat dikaguminya sehingga ia berusaha membela dan terus merekonstruksi ide-ide mereka. Satu hal, sebelum ketiadaannya, ia berpesan kepada seluruh intelektual muda untuk tidak pernah berhenti merekonstruksi ide-ide usang. Saya diajar dan dididik selama satu semester. Pendek, namun mendalam.

Kesederhanaannya, keberpihakannya, batuk-batuknya, kemejanya yang tampak kebesaran dan tak pernah disetrika, ke-blak-blakannya, humornya, dan logat bataknya begitu kuat tertanam di benak beberapa mahasiswa yang telah ia ajar dan didik. Kini, semua itu hanya bisa dikenang. Semuanya tidak bisa dilihat dan didengar. Tetapi, semua itu masih bisa dirasakan sehingga membentuk terkesan ada sebuah ikatan emosional yang kuat dari orang-orang yang pernah mengenalnya. Ikatan emosional yang begitu kuat tampak sekali ketika saya dan teman saya, Insan, mengunjungi blognya setelah ia wafat. Tampak sekali kehadirannya masih terasa.

Sempat kami tertegun sejenak ketika membaca kembali tulisan-tulisannya. Begitulah orang baik, seperti kata Harry, akan selalu meninggalkan kesan mendalam bagi orang lain yang pernah mengenalnya. Pak boas adalah jenis orang yang tidak mudah datang dan tidak mudah pergi;tidak mudah pulang dan tidak mudah tiba;tidak mudah pula tergantikan. Ia adalah jenis orang yang selalu hadir sehingga sulit dikatakan apakah dia itu nyata atau hanya mimpi. Selamat jalan, Pak Boas...

Belum selesai rasa tertegun saya, ada satu hal lagi yang membuat ketertegunan saya semakin kuat. Pada sebuah pusat kota di tengah rimba raya beton-beton bertingkat, seekor Garuda jatuh tersungkur. Belalai Gajah Putih membuatnya tersungkur. Ia bertanding dengan Gajah Putih untuk memperebutkan gelar siapa yang paling kuat di Asia Tenggara. Akan tetapi, Garuda gagal. Dua kali bertanding, dua kali pula ia tersungkur. Gajah Putih begitu perkasa hingga membuatnya kembali terluka karena gadingnya. Dua kali serangan Gajah Putih cukup membuatnya tewas saat ia bertanding di tanah kelahiran Gajah Putih. Mayatnya kini tengah dikirim kembali ke tanah kelahirannya, sebuah tanah persada kaya raya yang tengah dilanda gundah gulana karena para elite semakin tidak mendengarkan suara pemilihnya;suara dari atas,bawah,kanan,kiri,depan,dan belakang.

Sementara para pemilihnya berteriak lantang di luar gedung para elite berkumpul, para elite justru tidak mau mendengar. Bukan karena tuli, tetapi mereka memang tidak ada disana. Mereka memilih pergi. Memilih menghibur diri sendiri, menyenangkan mata dengan melihat kemolekan gadis-gadis di mal-mal Jakarta, atau bahkan menikmati aksesoris mahal di Grand Indonesia. Absen mereka titipkan pada rekan-rekannya. Seperti seorang mahasiswa yang meng-sms temannya supaya menandatangani daftar hadir kuliah. Begitulah, ketika tua mereka baru mengalami masa puber kuliah. Mungkin karena mereka benar-benar tak pernah kuliah sehingga sewaktu di gedung sana, mereka merasa bahwa mereka sedang kuliah. Sudahlah, tak ada yang dapat diharapkan dari mereka. Mungkin suatu saat keturunan dan generasi baru akan "membunuh" mereka. Tidak ada tempat bagi mereka di masa depan. Tempat mereka hanyalah di masa lalu. Cukup adilkan?

Tidak ada komentar: