“..Selat adalah laut yang menghubungkan dua pulau..”
“..si budi pergi memancing ikan..”
Seorang profesor Sejarah Maritim Indonesia asal Banyumas mengucapkan sabda legendaris diatas pada sebuah sesi kuliah. Ia sedikit frustrasi melihat bangsanya abai terhadap laut. Kata beliau, bangsanya sejak kecil sudah diajari untuk takut terhadap laut dan malas melaut. Bangsanya ini, kata beliau lagi, sudah tidak pantas lagi mengucapkan frase lupa daratan, tetapi lebih pantas mengucapkan frase lupa lautan.
Berabad-abad lamanya, bangsa ini telah mampu menjawab tantangan alam. Laut sebagai salah satu tantangan alam telah mampu mereka taklukkan. Bagi nenek moyang bangsa ini, laut bukanlah pemisah, melainkan jembatan penyambung antar pulau. Keadaan alam yang terdiri atas ribuan pulau membuat mereka harus memberikan jawaban atas tantangan itu. Seperti kata mahaguru Sejarah asal Inggris Arnold Toynbee, ada tantangan ada jawaban. Hanya dengan menjawab tantangan, peradaban manusia dapat berkembang.
Peradaban dimulai dari interaksi. Kemudian, peradaban dibangun melalui kooperasi. Tak kalah penting juga adalah komunikasi. Maka, menyebarlah orang-orang Jawa, Banten, Melayu, Bugis, Makasar, dan Ambon ke hampir penjuru Nusantara. Dari Madagaskar sampai Makasar, dari Malaka sampai Larantuka. Mereka berkomunikasi satu sama lain sembari tukar-menukar barang. Dari Porselen, cengkeh, lada, pala, kain, gaharu, sampai cendana.
Dari aktivitas perdagangan itu, secara perlahan terjadi persilangan kebudayaan yang kelak memperkaya bangsa ini. Dari komoditas itu, bangsa-bangsa dari negeri atas angin seperti Belanda, Italia, Spanyol, Portugis, Denmark, sampai Armenia tergiur datang ke negeri bawah angin pada abad ke-14. Kapal-kapal dari New Hoorn, Genoa, sampai Venesia memadati kota-kota pelabuhan di pesisir barat Sumatera, utara Jawa, dan selatan Sulawesi. Nusantara atau Daerah Selatan, kata orang-orang dari negeri atas angin, kemudian menjadi daerah kosmopolitan selama abad ke-14—17. Masa ini dinamakan masa kurun niaga, sebuah masa ketika perdagangan menyatu dengan kebudayaan.
Di masa ini pulalah, Orang-orang Bugis dan Makasar pergi melaut dengan menggunakan perahu-perahu sederhana, namun kuat berlayar hingga pantai barat Australia. Meraka melaut untuk mencari teripang. Dari pencarian teripang ini, mereka menemukan sebuah benua yang kelak diisi oleh para napi dari Inggris jauh sebelum seorang bernama James Cook menemukannya. Pencarian ini juga membentuk satu jaringan komunikasi antara suku asli wilayah tersebut yang berkulit hitam dengan orang-orang Makasar dan Bugis yang berkulit sawo matang. Lebih jauh lagi, pencarian ini merupakan kegiatan produktif dan kreatif di masa kurun niaga.
Masa ini tidak mungkin muncul jika penduduk Nusantara takut dan kecut karena melihat laut sebagai pemisah. Suatu pemahaman yang kemudian ditanamkan kepada para pewaris negeri yang subur ini berabad-abad kemudian. Selat adalah laut yang memisahkan dua pulau, begitu kata ibu dan bapak guru mereka. Tidak heran, Indonesia kini bukan lagi sebuah kesatuan, melainkan sebuah keterpisahan. Antar satu pulau dengan pulau lainnya terpisah;antar satu suku dengan suku lainnya terpecah karena laut menjadi pemisah. Negara pun dibangun diatas warisan agraris Kerajaan Mataram Islam sebagai pihak yang paling bertanggug jawab dalam menghancurkan masa perdagangan jarak jauh tersebut.
Kiranya, saat lupa lautan melanda bangsanya ini, sang profesor tetap membuka harapan bahwa laut tidak akan pernah kehilangan pesonanya. Setidaknya, masih ada mahasiswa yang mengambil kuliahnya tentang sejarah maritim Indonesia. Sang profesor juga telah berusaha membuka mata para mahasiswanya untuk tidak lagi berpikir bahwa laut adalah pemisah. Si Budi pun tak harus ke pasar lagi untuk membeli ikan yang menjadi simbol konsumtifnya bangsa ini. Si Budi harus memancing ikan lagi sebagai simbol produktivitas dan kreativitas nenek moyangnya dulu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar