Semester berat terlewati. Di depan praskrip menanti. Dosen-dosen terus mewanti-wanti. Teman-teman pun banyak yang berhati-hati.
“Akhirnya semester berbahaya kita lewati,Ru”, kata Insan. Tampaknya, kata-katanya itu ia pinjam dari judul sebuah film yang dibintangi Mel Gibson, The Years of Living Dangerously, yang menceritakan peliputan wartawan Australia selama masa-masa Gestapu. Masa dimana xenophobia begitu kental. Kebencian antar anak bangsa begitu kekal. Persaudaraan sangatlah dangkal. Perekonomian benar-benar bebal.
Seperti film itu, semester lalu adalah sebuah masa yang berat bagi sebagian rekan-rekan saya dan saya sendiri. Tetapi, bukan karena xenophobia, kebencian, persaudaraan, dan perekonomian, melainkan karena kegamangan, keragu-raguan, kepanikan, dan ketakutan. Kegamangan memilih antara materialitas dan spiritualitas. Keragu-raguan memasuki zaman edan. Kepanikan terjebak dalam zaman serba cepat. Dan ketakutan karena kegagalan topik skripsi. Semua bercampur menjadi satu menjadi sebuah konfigurasi masa bernama semester berbahaya.
Antara materialitas dan spiritualitas, antara Marxisme atau Islam. Sebagian berusaha mendamaikan, sebagian berusaha kukuh pada salah satunya tanpa embel-embel;Marxisme-Islam atau Islam-Marxisme. Begitu banyak yang harus dikorbankan untuk memahami persoalan ini. Jika Ahmad Wahib masih hidup, ia mungkin akan sama kebingungannya dengan rekan-rekan dan saya.
Pada zamannya, Ahmad Wahib belum menyentuh apa yang namanya zaman edan. Sebuah zaman dimana kebenaran bercampur kepalsuan; spiritualitas bertopengkan materialitas; kedalaman bergerak menuju kedangkalan; kebebasan diartikan kesuka-sukaan; kelambatan dibabat habis kecepatan; citra daripada makna. Di masa ini, sulit menentukan siapa kita dan hendak kemana. Fasisme kebudayaan karena kapitalisme global yang semakin maju memaksa kita menginisiasi diri lewat produk. Aku adalah apa yang aku beli dan aku membeli maka aku ada. Tak ada waktu untuk merenung karena cepatnya identitas berganti sehingga sejarah pun terkesan tak ada gunanya lagi.
Dalam kecepatan, selalu tak akan pernah ada makna yang dapat ditangkap. Kecepatan memaksa membuang makna karena menjadi beban yang akan mengakibatkan kelambanan. Segalanya dibuat serba cepat dalam hasrat berkompetisi. Tanpa bisa memahami apa makna dibalik kompetisi yang serba cepat itu. Slogan survival of the fittest pun berubah menjadi survival of the fatest. Ia memaksa kita untuk seluas-luasnya menyalurkan hasrat. Keinginan pun lebih utama daripada kebutuhan. Terciptalah kebutuhan yang dibuat yang sebenarnya adalah produk-produk yang tak diperlukan.
Produk yang dihasilkan selalu jauh dari nilai sebuah kebutuhan. Ia merupakan produk-produk yang direproduksi untuk kesenangan yang penuh kedangkalan. Ilmu pengetahuan pun tak luput dari produk-produk seperti itu. Skripsi-skripsi yang tak diperlukan bermunculan. Mahasiswa bingung memilih topik. Bukan karena keterbatasan topik, tapi karena keberlimpahan topik. Skripsi pun menjadi karya yang banal atau remeh temeh setara dengan catatan harian yang saya tulis ini. Banyak yang tak memiliki relevansi dengan kondisi kekinian, situasi kedisinian, dan hikmah kebijaksanaan. Yang penting lulus dan dapat gelar S-1.
Ingin memilih topik yang bermakna, dikejar oleh tuntutan waktu studi. Padahal, kedalaman memerlukan pengorbanan dan kehati-hatian. Sementara kedangkalan memerlukan kesenangan dan kesembronoan. Universitas mengaku didesak pasar. Padahal, pasar sendiri tidak selalu menyerap lulusan universitas. Untunglah, sebuah tulisan “panta rei” dari sebuah novel Sutan Takdir menyelamatkan sekelompok rekan-rekan dan saya. Ia melengkapi kejujuran Marcos, kesederhanaan Muhammad, kebijaksanaan Yasraf Amir Piliang, dan keberanian Ahmedinejad. Tak salah Insan berkata “Semester yang berbahaya kita lewati,Ru”. Dan pintu gerbang selanjutnya telah terbuka, masa memantapkan topik dan saat menarik diri dari dunia untuk zuhud kesenangan demi pemahaman dan ilmu pengetahuan. Juga waktu bagi dosen pembimbing untuk terus mewanti-wanti dan meneror.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar